Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pesona Pura Tertua di Jakarta, Buah Perjuangan Umat Hindu

Fatha Annisa , Jurnalis-Sabtu, 13 Maret 2021 |17:00 WIB
Pesona Pura Tertua di Jakarta, Buah Perjuangan Umat Hindu
Pura Aditya Jaya di Rawamangun, Jakarta Timur (Okezone.com/Helmi)
A
A
A

UMAT Hindu di Indonesia akan merayakan Nyepi Tahun Baru Saka 1943 pada Minggu 14 Maret 2021. Mereka akan mendatangi pura untuk beribadah. Warga Hindu di Jakarta juga menggelar ritual serupa di Pura Aditya Jaya.

Pura Aditya Jaya terletak di ujung Jalan Deksinapati Raya, Rawamangun, Jakarta Timur. Pura tertua di Jakarta ini salah satu objek wisata religi.

Baca juga:  Nyepi 2021 Dirayakan Tanpa Ogoh-Ogoh

Keberadaan Pura Aditya Jaya memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjuangan umat Hindu Jakarta untuk mendapatkan tempat persembahyangan sejak 1955. Keinginan tersebut baru direspons pada 1960-an.

Saat itu Presiden Soekarno memberikan tanah ke umat Hindu, tapi belum bisa dibangun Pura karena beberapa kendala.

ilustrasi

Pura Aditya Jaya (Okezone)

Barulah pada 1970-an, I Gusti Ngurah Mandra (alm) yang ditunjuk sebagai kontraktor proyek jalan Jakarta-Cirebon, mengusulkan ide untuk menyumbangkan tanah bekas perbekalan untuk dibangun sebuah pura. Ide itu pun diterima.

Peletakan batu pertama pembangunan Pura Aditya Jaya dilakukan pada 1972 oleh Drs. Moh. Hadi. Pembangunan fisik dimulai dengan membuat Padmasana.

“Pembangunan Pura Aditya Jaya ini hampir berbarengan dengan pura di Tanjung Priok dan Cijantung, tetapi pura ini yang pertama, hanya selisih beberapa bulan,” kata pengelola Pura Aditya Jaya, I Gusti Kompiyang Suanda kepada Okezone beberapa waktu lalu.

Hingga 2019, Jakarta punya 87 pura. Tapi, Pura Aditya Jaya tetap istimewa dan punya jamaah tetap.

Baca juga: Turis Wajib Tahu, Ini Larangan-Larangan saat Nyepi di Bali

Menurut Kompiyang, jumlah umat Hindu yang ngemong di Pura Aditya Jaya mencapai 600 kepala keluarga.

 

“Mereka mempunyai kewajiban terhadap pengelolaan Pura Aditya Jaya, tetapi umat Hindu lainnya juga banyak. Jadi, kalau dihitung umat Hindu di Pura Aditya Jaya ini mencapai 3.000 jiwa. Umat-umat Hindu tersebut biasanya datang dari Rawamangun, Kampung Ambon, Utan Kayu, Cipinang dan Klender,” tutupnya.

Seperti pura pada umumnya, Pura Aditya Jaya dibangun di kawasan terbuka dan dikelilingi tembok. Lingkungan-lingkungan itu dihubungkan dengan gapura atau gerbang dengan ukiran. Lingkungan yang dikelilingi tembok memuat beberapa bangunan seperti tempat bersemayam Hyang Widhi.

Pendirian Pura Aditya Jaya mengikuti beberapa persyaratan yang menjadikannya bukan hanya tempat sembahyang, melainkan juga tempat suci. Struktur bangunan Pura mengikuti konsep Tri Mandala yang menjadi lambang dari Tri Bhuwana.

Terdapat tiga halaman dalam Pura Aditya Jaya, yaitu Kanisthama Mandala atau Jaba sisi, Madhyana Mandala atau Jaba Tengah, dan Uttama Mandala atau jeroan.

Kanisthama Mandala adalah zona terluar yang merupakan pintu masuk pura. Pada zona ini ada lapangan parkir, warung-warung, dan gedung wantilan untuk pementasan tari atau persiapan upacara keagamaan. Terdapat pula gedung pasraman dan gedung perkantoran untuk organisasi-organisasi Hindu.

 ilustrasi

Madya Mandala adalah zona tengah. Zona ini digunakan untuk umat Hindu beraktivitas dan sebagai tempat fasilitas pendukung lain. Di sini terdapat Bale Kul-Kul, Bale Gong, dan wantilan.

Sedangkan zona paling dalam adalah Uttama Mandala. Zona ini juga menjadi tempat paling suci dari pura. Umat harus melalui Kori Agung atau Candi Kurung dengan tiga pintu untuk sampai ke bagian ini.

Pintu utama terletak di tengah, sementara dua pintu lainnya mengapit pintu utama. Di sini terdapat Padmasana, Pelinggih, Meru, Bale Piyasan, Bale Pepelik, Bale Panggungan, Bale Pawedan, Bale Murda, dan Gedong Penyimpenan.

(Salman Mardira)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement