“Berdasarkan grafik dari Denmark. Covid-19 varian yang lama sudah jauh berkurang, justru varian yang baru ini mendominasi dan cepat. Ini yang kita khawatirkan sebenarnya, karena mereka bisa mendominasi varian yang lama,” lanjutnya.
Baca Juga : 5 Potret Vanessa Angel Berbikini, Seksinya Bikin Pelakor Mundur Teratur!
Pada kesempatan yang sama, dr. Fajri juga menyayangkan Indonesia yang masih minim dalam hal pengumpulan sampel Covid-19. Hal ini yang mungkin akan menjadi tantangan lain pemerintah Indonesia dalam menghadapi penularan strain baru Covid-19.
“Kalau di Indonesia, kita tidak tahu karena sampel milik Tanah Air sangat sedikit. Dari sekian juta orang, kita baru mengirim sekira 466 sampel genomic. Jadi virus ini berbeda melacaknya, bukan pakai PCR biasa. Mereka pakai namanya Whole Genome Sequencing. Jadi bahasa genetik RNA virus ini kan 30 ribu, nah itu harus dijabarkan semuanya baru bisa tahu ada mutasi. Bisa yang dari Inggris B117 atau B1351 yang dari Afrika Selatan, atau yang dari Brasil,” tuntasnya.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.