“Kami bersiap untuk penurunan penjualan setidaknya 20 persen dibandingkan tahun lalu,” sebut perwakilan toko swalayan di Fukuoka, barat daya Jepang, kepada Mainichi Shimbun.
Tradisi pemberian cokelat sebagai hadiah di Hari Valentine telah diluncurkan secara komersial di Jepang pada pertengahan 1950-an, dan berkembang menjadi pasar jutaan dolar.
Namun, beberapa perusahaan telah melarang praktik tersebut yang oleh beberapa orang dilihat sebagai bentuk pelecehan kekuasaan sehingga menyebabkan lebih banyak wanita memilih membeli cokelat untuk diri mereka sendiri atau teman dekat.
Menurut MyVoice Communications, sebuah firma riset internet di Tokyo, 56,8 persen pria dan wanita yang disurvei pada tahun 2010 mengatakan bahwa mereka telah memberi atau menerima hadiah Valentine, tetapi pada tahun lalu angka itu turun menjadi 44,6 persen saja.
Terlepas dari upaya para produsen untuk menghasilkan ide baru dan mendorong pembelian online, Asosiasi Peringatan Jepang, sebuah kelompok yang mempromosikan kesadaran akan budaya dan adat istiadat Negeri Sakura sejak jauh-jauh hari telah memperingatkan bahwa tradisi Giri Choco kini menuju 'gerbang kepunahan'.
(Rizka Diputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.