Pemandangan orang yang mengular di kanan-kiri gerbang Kota Terlarang yang bisa tembus ke Lapangan Tian'anmen juga tidak terlihat lagi.
Namun bukan berarti objek-objek wisata tersebut sepi sama sekali. Ada beberapa kelompok wisatawan, namun mereka dari kalangan masyarakat setempat saja karena hampir semua pemerintah provinsi atau kota setingkat provinsi di China mengeluarkan imbauan tidak bepergian ke luar daerah selama Chun Jie.
Beijing pun memperketat masuknya orang dari luar daerah dengan mewajibkan hasil negatif tes usap yang berlaku tiga hari sebelum kedatangan.
Bagi orang asing yang hendak masuk Beijing lebih ketat lagi karena harus menambah tujuh hari lagi karantina setelah karantina wajib di kota lain selama 14 hari. Dalam masa tujuh hari itu pun masih diharuskan tes usap dengan sampel yang diambil dari dubur.
"Sebenarnya kita punya jadwal press trip. Namun daripada kita kesulitan saat kembali ke Beijing nanti, maka kita jadwal ulang lagi," kata salah satu penaggung jawab Pusat Pers Internasional di Kementerian Luar Negeri China (MFA) pada awal Februari.
Cuaca Ekstrem
Pusat-pusat perbelanjaan di Ibu Kota China itu juga tidak seramai biasanya meskipun berbagai potongan harga digeber berbagai pemilik merek.
Hal itu menunjukkan bahwa perekonomian China memang belum pulih 100 persen sejak pandemi mewabah menjelang Imlek tahun 2020.
Beberapa restoran juga tidak banyak didatangi pengunjung karena otoritas setempat mempersyaratkan jamuan makan bersama tidak boleh diikuti lebih dari 10 orang.

Deretan restoran di kawasan Dongzhimen juga tidak seramai biasanya, bahkan beberapa di antaranya memilih tutup.
"Saya libur empat hari mulai Jumat (12/2)," kata perempuan pemilik restoran di kawasan Dongzhimen.
Meskipun sama-sama dalam situasi pandemi, Imlek tahun ini kesannya lebih merana dibandingkan tahun lalu.
Pada tahun lalu, masih terlihat adanya kepadatan orang-orang di terminal bus, stasiun kereta api, dan bandar udara di Ibu Kota yang hendak pulang kampung mengisi liburan Imlek.
Chun Yun, atau fenomena mudik selama masa Chun Jie, pada tahun ini sangat dirasakan oleh China National Railway Group.
Operator jaringan kereta api di China itulah yang paling parah terkena dampak dari imbauan tidak mudik yang dikeluarkan oleh hampir semua pemerintah provinsi dan kota setingkat provinsi.
Sejak dicanangkannya program angkutan mudik Imlek pada 28 Januari hingga 11 Februari 2021 kereta api di China hanya mengangkut 52.330.000 pemudik.
Angka itu turun drastis hampir 70 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020 ketika kereta api di China mampu mengangkut 167.990.000 pemudik.
Padahal pada saat itu juga ada anjuran tidak mudik dari pemerintah setelah Wuhan di-lockdown.