Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Warga Manado Kibarkan Bendera Setengah Tiang untuk Kapten Diego Mamahit

Salsabila Jihan , Jurnalis-Jum'at, 05 Februari 2021 |11:02 WIB
Kisah Warga Manado Kibarkan Bendera Setengah Tiang untuk Kapten Diego Mamahit
Ayah mendiang Kapten Diego Mamahit, Boy Mamahit (Foto: YouTube/Intens Investigasi)
A
A
A

CO-PILOT yang mendampingi Kapten Afwan dalam penerbangan Sriwijaya Air SJ 182, Kapten Diego Mamahit telah berhasil diidentifikasi dan telah diserahkan kepada keluarga pada Senin, 18 Januari 2020 oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.

Sebelum pemakamannya pada Kamis, 21 Januari 2021 lalu, keluarga dan kerabat Kapten Diego Mamahit terlebih dahulu melaksanakan rangkaian upacara kematian mulai dari Selasa hingga Rabu, berupa Ibadat Penghiburan dan berakhir dengan ibadah penguburan di TPU Petamburan.

Baca juga: Selamat Jalan Kapten Diego Mamahit, Fly High to Heaven

Namun kesedihan masih tampak dalam keluarga co-pilot Diego Mamahit. Ayahnya, Boy Mamahit awalnya sangat yakin jika sang putra selamat dari tragedi maut tersebut. Ketika mendengar kabar bahwa jenazah sang anak telah teridentifikasi, ia sempat syok.

Kapten Diego mamahit

(Foto: Ist)

"Sebelum ini, saya masih punya pengharapan. Boleh saja, saya bilang, orang mau bilang saya orang enggak beres, saya enggak peduli. Tetapi saya tetap berdoa saja mengandalkan Tuhan. Bisa saja terjadi kalau Tuhan berkenan ada mukjizat ada keajaiban kenapa tidak?" ujar Boy Mamahit seperti dikutip dari channel YouTube Intens Investigasi.

Namun sesaat setelah beredar kabar bahwa jasadnya sudah ditemukan, harapannya sempat hilang. Saat itu semua keluarganya langsung menenangkan sang Ayah.

Baca juga: Jenazah Co-pilot Sriwijaya Air SJ 182 Kapten Diego Mamahit Dimakamkan di TPU Petamburan

Kendati demikian, keluarga juga terus berusaha untuk mulai mengikhlaskan walau memerlukan waktu cukup lama.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement