KELELAHAN, nyeri, dan sesak napas selama ini ditandai sebagai gejala mereka yang sembuh dari Covid-19. Tapi kini dikabarkan, muncul satu gejala baru pasca-Covid-19 yang hanya dialami oleh perempuan.
Hal ini diketahui setelah cukup banyak laporan di sosial media bahwa perempuan yang sudah pernah terinfeksi Covid-19 mengalami perubahan siklus menstruasi.
Contohnya Rose, kepada Medical News Today ia menuturkan dalam 8 bulan sejak pulih dari Covid, ia hanya mengalami lima kali menstruasi.
Tak hanya siklusnya yang berubah, sebagian juga mengalami perubahan di ukuran gumpalan darah menstruasi yang berubah menjadi lebih besar daripada biasanya. Seperti yang dialami seorang wanita bernama Bianca.
"Saya tak melihat ada yang berbeda saat di awal terkena Covid, baru setelah 3 bulan kemudian beberapa gejala muncul kembali, saya melihat adanya perubahan. Saya melihat peningkatan gumpalan," aku Bianca.
Sama seperti pengalaman Rose dan Bianca, seseorang bernama Edith saat diwawancara Medical News Today juga mengaku mengalami perubahan menstruasi sejak terinfeksi Covid. Perubahan yang ia alami tidak hanya frekuensi, tapi juga durasi, kelancaran, intensitas, dan level rasa sakit.
Menjelaskan fenomena ini, Dr Linda Fan, asisten profesor Kebidanan, Ginekologi dan Ilmu Reproduksi di Yale School of Medicine, mengatakan sejauh ini penelitian yang dipublikasikan tentang hubungan virus corona dengan menstruasi masih jarang.
Tapi memang, ada beberapa kemungkinan secara biologis yang bisa menyerang fungsi ovarium berdasarkan beberapa efeknya pada organ tubuh yang lain.
Dalam sebuah studi kecil di China, yang dipublikasikan dalam Reproductive BioMedicine Online pada September lalu, menemukan sekitar 25% orang dengan Covid memang mengalami perubahan menstruasi. Dari 117 orang participant, pasien di Tongji Hospital in Shanghai, 30% melaporkan mengalami pendarahan ringan atau periode menstruasi yang lebih panjang.
Merujuk pada hasil studi tersebut, ginekolog Dr Shree Datta menjelaskan bukan jadi hal yang tidak jarang, infeksi virus itu berdampak pada hormon, menstruasi, dan kesuburan perempuan.
"Meskipun buktinya terbatas, belum ada yang menunjukkan dampak jangka panjang pada kesuburan, tetapi perubahan sementara pada menstruasi, telah dilaporkan pada beberapa wanita yang menderita Covid-19," kata Dr Shree.
Di sisi lain, Dr Sheree mengingatkan perubahan menstruasi ini juga bisa dipicu oleh faktor lain seperti stres dan perubahan gaya hidup. "Penting untuk dicatat bahwa stres akibat hidup di era pandemi dan perubahan gaya hidup, juga dapat memengaruhi keseimbangan hormonal, yang mengakibatkan perubahan pada menstruasi Anda," jelasnya.
Senada dengan Dr Sheree, Dr Sarah Jarvis, Professor Ginekologis dan Clinical Director menyebut, faktor stres juga bisa menjadi kemungkinan penyebab terjadinya perubahan dalam menstruasi. Sarah menerangkan, saat tubuh seseorang sakit kondisi itu merupakan stres besar bagi tubuh, dan stres diketahui mengganggu sistem hormon otak-ovarium yang mengatur menstruasi pada perempuan.
Selain itu, ketika sakit tubuh disebutkan siap untuk berhenti melakukan hal-hal yang ‘tidak penting.
"Jika sebagian besar energi tubuh Anda fokus untuk memerangi virus dan menjaga fungsi tubuh yang penting. Maka jadinya lebih sedikit energi untuk fokus menjaga rambut dan kuku kita tumbuh atau mengatur hormon kita,” tutup Dr Sarah, seperti diwarta The Sun.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.