Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sensasi Lengket di Tengah Hutan Sagu Papua

Antara , Jurnalis-Selasa, 15 Desember 2020 |21:38 WIB
Sensasi Lengket di Tengah Hutan Sagu Papua
Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha di Sentani, Jayapura, Papua (Antara/Ika)
A
A
A

Dalam festival itu ia melibatkan mama-mama dan remaja putri di Kampung Yobeh untuk membuat aneka olahan kuliner sagu dengan bimbingan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua. Sementara bapak-bapak dan pemuda kampung diajak bersama-sama menokok sagu.

Olahan baru

Berkunjung ke Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha rasanya memang kurang lengkap jika tidak mencicipi pula setiap olahan dari bahan sagu. Berkat bimbingan dari BPTP Papua, kini mama-mama di Kampung Adat Yobeh semakin cemerlang dengan keahliannya "menyulap" sagu menjadi beragam jenis makanan.

Jala sagu dengan mujair kuah kuning plus acar mentimun dan irisan cabai segar menjadi menu baru yang ditawarkan sebagai hasil inovasi bersama BPTP Papua. Mama Aline mengatakan akan menjadikan masakan itu sebagai menu utama di kafe yang sedang dikembangkan di kawasan ekowisata tersebut, dengan harga per porsi sama dengan papeda.

Kepala Seksi Kerja sama dan Pelayanan Pengkajian BPTP Papua Mariana Ondikeleuw mengatakan balai mencoba melihat apa yang dibutuhkan masyarakat dan kerja sama dengan pemerintah setempat untuk memberikan pelatihan maupun diseminasi teknologi pangan yang telah mereka kembangkan.

"Salah satunya diversifikasi makanan dibumikan di masyarakat. Agar juga masyarakat tidak hanya makan papeda, tapi bisa mengolah bahan pangan lokal siap saji untuk konsumsi sendiri setiap hari maupun dipasarkan ke masyarakat luar," ujar Mariana.

Menurut dia, ada nilai tambah yang diberikan pada sagu setelah mama-mama di daerah itu mendapat pelatihan. Kini mereka juga bisa membuat biskuit, cake, brownis dari tepung sagu, kembang goyang, mi sagu, bahkan mereka memproduksi tepung sagu yang sudah dipasarkan di Jayapura dengan kisaran harga Rp25.000 sampai dengan Rp35.000 per kilogram (kg).

 ilustrasi

Semua pelatihan yang diberikan, ia mengatakan berdasarkan permintaan dari masyarakat di Kampung Adat Yobeh. Sehingga kini mereka mulai dapat merasakan manfaatnya.

“Satu hari jualan saya dapat untung Rp550.000. Jualan jala sagu saja,” kata salah satu anggota Kelompok Mama-mama Kampung Huruwakha, Mama Welka Felle, yang juga berharap agar festival sagu di daerahnya benar-benar dapat rutin dilaksanakan sehingga masyarakat dapat terus berpartisipasi.

Mengolah sagu

Proses tebang pohon sagu di Kampung Adat Yobeh biasanya dilaksanakan selama tiga hari. Masyarakat di sana biasanya membagi beberapa bagian batang sagu yang sebelumnya telah ditebang, sebelum dikupas kulitnya dan kemudian diparut batangnya.

Cara masyarakat di Kampung Yobeh memarut batang sagu sudah cukup modern sehingga mempercepat proses tokok sagu. Hasil endapan berupa pati sagu kemudian diremas dengan cara tradisional.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement