Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sensasi Lengket di Tengah Hutan Sagu Papua

Antara , Jurnalis-Selasa, 15 Desember 2020 |21:38 WIB
Sensasi Lengket di Tengah Hutan Sagu Papua
Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha di Sentani, Jayapura, Papua (Antara/Ika)
A
A
A

"ENGGAK apa-apa sudah, demi memikat untuk diikat," kata Mama Aline, diikuti senyum lepasnya, mengomentari harga papeda dan mujair kuah kuning spesial buatannya, yang memang dijual jauh lebih murah jika dibandingkan di restoran atau tempat makan lain di Papua.

Mama Aline, panggilan akrab dari Magrit Linda Tokoro, yang menginisiasi berdirinya Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha di Kampung Adat Yobeh, Distrik Sentani, Jayapura, Papua, itu memberi harga menu paket papeda dan mujair kuah kuning plus sambal dan tumis kangkung bunga pepayanya Rp35.000 per porsi.

"Walau sudah bosan berfoto, aduh demi papeda saya balik lagi," ujar Mama Aline, yang mencoba memperkirakan alasan wisatawan akan kembali lagi ke sana karena harga ekonomis menu spesialnya itu.

Baca juga: Pesona Taman Nasional Lorentz Papua, Salju Abadi hingga Habitat Aneka Burung

Ucapannya tidak salah, karena ternyata banyak wisatawan yang datang ke ekowisata hutan sagu yang baru diresmikan Bupati Jayapura Mathius Awoitauw pada 19 Agustus lalu itu, untuk menikmati papeda buatan Mama Aline, selain tentu saja ingin berfoto di lokasi-lokasi menarik yang telah ditata sedemikian rupa hingga terlihat "Instagramable".

Istimewanya lagi, wisatawan dapat merasakan sensasi menikmati masakan khas masyarakat pesisir di Papua dan Maluku yang bertekstur lengket, seperti lem itu, langsung di tengah kawasan Hutan Sagu Huruwakha yang masih asri, sambil memandang Danau Sentani.

ilustrasi

Ekowisata Hutan Sagu Haruwakha (Antara)

Inisiasi ekowisata

Sebuah pemikiran dalam dialek Papua yang berbunyi “Kalau dong bisa, kenapa tong tra bisa", yang artinya “Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak bisa”, seperti memberikan energi positif untuk berinovasi bagi Mama Aline.

Mama Aline yang juga merupakan Ketua Kelompok Mama-mama Kampung Huruwakha mengatakan dirinya yang pertama mendapat ide untuk mengembangkan ekowisata di hutan sagu yang menjadi rumah sekaligus sumber penghasilan bagi Masyarakat Adat Kampung Yobeh. Belum lama diresmikan, kini lokasi itu sudah menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Kabupaten Sentani.

Konsep Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha tetap memegang prinsip bahwa masyarakat lokal hidup dari sagu. Olahan dari teras batang rumbia yang lebih dikenal dengan pohon sagu itu sangat berarti bagi masyarakat Papua, khususnya bagi masyarakat lokal di Kampung Yobeh.

"Kerja sama yang baik membuahkan hasil yang baik pula," ujar perempuan paruh baya itu.

Festival yang rencananya akan diadakan setiap bulan itu tidak saja memberikan pengalaman, tetapi juga edukasi tentang sagu bagi wisatawan.

Karena di sana mereka dapat melihat kondisi hutan sagu Kampung Adat Yobeh, bagaimana masyarakat membuat sagu, mulai dari proses penebangan pohon, membelah teras batang sagu menjadi beberapa bagian, menokoknya, memerasnya, hingga mengendapkannya untuk mendapatkan patinya, sampai akhirnya memperoleh sagu basah.

Pada saat yang sama, masyarakat di Kampung Adat Yobeh pun mendapat pengalaman dari festival itu, bahwa hutan sagu yang terjaga ternyata dapat memberikan manfaat jasa lingkungan melalui ekowisata sehingga mampu menjadi sumber ekonomi baru untuk peningkatan kesejahteraan bagi sekitar 300 jiwa dari 30 kepala keluarga di daerah itu, yang memang mayoritas hidupnya bergantung pada sagu.

Baca juga: Tips Bepergian Aman di Masa COVID-19 ala Dokter Reisa Broto

Wisatawan hanya perlu membayar Rp10.000 per orang sebagai tiket masuk ke kawasan Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha dan dapat merasakan berjalan di antara rindangnya pohon sagu, menikmati pemandangan Danau Sentani, berfoto di titik-titik menawan yang "Instagramable".

Dan tentu saja merasakan sensasi menikmati papeda dari sagu segar yang diambil dan diproses di Kampung Adat Yobeh, plus mujair yang diambil dari Danau Sentani dan diolah menjadi menu ikan kuah kuning seharga Rp35.000 per porsi yang biasanya dihargai ratusan ribu rupiah untuk tiga hingga empat porsi.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement