Simone sendiri terbiasa meluruskan rambut. Namun, pada umur 23 tahun, dia menerima model rambut aslinya dan membiarkannya tumbuh alami. Jika diperlukan, dia hanya mengeriting rambut atau mengikatnya menjadi top bun selama 10 menit hingga 1 jam.
"Aku memilih transisi ke rambut alamiku pada umur 23 tahun. Ini dimulai karena aku ingin menghemat uang ke salon untuk biaya pindah ke apartemen," tegasnya.

Memiliki rambut afro terbesar membuat Simone mendapatkan reaksi yang beragam saat berada di luar rumah. Sebagian orang memujinya, namun ada pula yang memberikan tatapan aneh dan bingung. Meskipun begitu, wanita ini bangga dengan rambutnya dan menganggapnya sebagai identitas.
“Sejak awal, rambut alamiku telah melalui perjalanan panjang. Aku melihatnya sebagai bagian dari gayaku,” pungkasnya.
Menurut sejarah, gaya rambut afro sangat lekat dengan kultur kulit hitam. Model rambut ini menjadi populer selama dekade 70-an. Kala itu, Afro dipopulerkan aktivis HAM kulit hitam, yang membiarkan rambutnya tumbuh panjang secara alami sebagai bentuk rasa bangga terhadap identitas dirinya.
(Dyah Ratna Meta Novia)