“Kalau untuk lukisan gambar yang simpel seperti ini paling 30 menit, abis itu tinggal nunggu kering catnya. Tapi kalau yang rumit seperti bikin bunga-bunga itu bisa sampai 3 jam,” cetus gadis berkerudung itu.
Selama masa pandemi Covid-19, Alip mengaku harus mengurangi produksi karena lesunya ekonomi. Untuk itu, dia mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi Disbudpar Kota Semarang karena menggaet anak-anak muda dalam pengembangan ekonomi kreatif.
“Bagus kegiatan seperti ini, kita bisa pameran sekaligus audiens yang diundang juga sesuai dengan pasar kita. Biasanya kan menyasar untuk kalangan dewasa dan ibu-ibu, tapi ini sesuai dengan usia-usia kita, kalangan milenial,” katanya.
“Kita biasanya pameran dari temen-temen aja. Sistemnya sewa booth atau sharing penjualan. Tap kalau yang difasilitasi pemerintah seperti ini kita free sama sekali. Gratis. Dulu pernah ikut Festival Kota Lama juga gratis. Cuma yang tahun kemarin (2019) enggak ada untuk kita,” ucap Alip.
Sementara itu Kepala Disbudpar Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, kegiatan yang digelar itu menampilkan hasil karya dari para pelaku ekonomi kreatif. Kolaborasi enam subsektor yakni film, desain komunikasi visual (DKV) , kriya, animasi, aplikasi, dan musik ditampilkan dalam satu event.
“Acara ini dimeriahkan oleh 10 kreator kriya ternama di Semarang, lebih dari 10 seniman visual dan lukis, launching figur icon ambassador tourism semarang, penambahan fitur destinasi event dan lokal brand di aplikasi Lunpia, launching film pendek dan video klip karya kolaborasi sektor musik dan film,” kata Indriyasari.
(Rizka Diputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.