PANDEMI memaksa kita harus mengerjakan beberapa hal secara online. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun harus menghadapi belajar secara online menggunakan gadget.
Memang, kita tidak bisa mencegah anak-anak menggunakan gadget, tapi kita harus bisa mengontrol durasi pemakaian gadget. Karena, memainkan gadget secara berlebihan dalam jangka panjang terbukti mengganggu penglihatan anak-anak.
Memang, dibutuhkan peran aktif para orangtua untuk mengatasinya. Jika tidak, maka anak-anak yang mengalami gangguan penglihatan seperti mata minus akan semakin merebak di berbagai daerah.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Depok dr Su kwanto Gamalyono, MARS mengakui, kasus akibat dampak negatif gadget pada anak cukup banyak. Namun untuk data detail memang belum ada.
Pemakaian gadget secara berlebihan jelas dapat menyebabkan lelah mata yang berdampak penglihatan bisa terganggu (minus). Dampak lainnya adalah peradangan mata.

“Saat ini kita sering lihat anak-anak, bahkan balita yang asyik berkutat dengan smartphone. Bahkan balita yang belum bisa membaca pun sudah hafal bagaimana cara mengakses video favoritnya,” katanya.
Banyak kasus, anak yang saking asyiknya memainkan gadget sampai lupa waktu dan terus-menerus tanpa jeda. Bahkan beberapa anak memainkan gadget dengan posisi dekat dengan mata. “Kebiasaan menatap layar ponsel ternyata punya andil dalam masalah mata, terutama pada anak-anak,” ungkapnya.
Menggunakan smartphone dalam kegiatan sehari-hari dan jarak dekat 30-40 cm akan menyebabkan kontraksi otot cilliaris di dalam bola mata atau yang dikenal dengan istilah akomodasi.
Terjadinya akomodasi berlebihan pada mata akan merangsang timbulnya mata minus. Apalagi anak-anak yang masih dalam usia tumbuh kembang. Kelelahan mata atau asthenopia memiliki keluhan serupa dengan orang dewasa. Bedanya anak-anak sering tidak memahami rasa lelah di mata yang mereka rasakan.
“Jika mata anak sudah berair, tampak lebih merah, sering dikucek, berkedip, atau anak mengeluh pusing, bisa jadi si kecil mengalami kelelahan mata,” jelasnya.