Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Peneliti Ini Beri Makan 5 Ribu Nyamuk dengan Darahnya Sendiri

Leonardus Selwyn Kangsaputra , Jurnalis-Kamis, 01 Oktober 2020 |16:21 WIB
Peneliti Ini Beri Makan 5 Ribu Nyamuk dengan Darahnya Sendiri
Memberi makan nyamuk (Foto: Oddity)
A
A
A

Seorang ahli entomologi dari University of Melbourne, Dr Perran Stott-Ros membiarkan ribuan nyamuk menggigit lengannya secara teratur. Ia sengaja melakukan hal tersebut untuk memberi makan para nyamuk dengan darahnya sendiri yang digunakan untuk penelitian tentang pemberantasan demam berdarah.

Sekadar informasi, Ross telah terlibat dalam penelitian nyamuk di Universitas Melbourne selama bertahun-tahun. Sekarang, ia mencoba menemukan cara efektif untuk mengekang penyebaran virus Dengue, yang menyebar di antara manusia melalui nyamuk.

 nyamuk

Salah satu strategi yang paling menjanjikan adalah menginfeksi kawanan nyamuk dengan Wolbachia. Ini adalah bakteri yang secara alami menghalangi penularan demam berdarah dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Namun, untuk melanjutkan penelitian ini, Dr. Stott-Ross harus memantau ribuan serangga penghisap darah itu. Sebagai bagian dari pemantauan itu, dia merelakan lengannya sendiri sebagai makanan bagi para nyamuk-nyamuk penelitiannya.

Ilmuwan Australia itu pertama kali menarik perhatian masyarakat Maret 2020, ketika dia men-tweet foto lengannya yang penuh dengan bentol setelah memberi makan 5.000 nyamuk betina. Dia mengakui bahwa gigitan nyamuk itu terkadang menyakitkan. Ia juga selalu harus menahan diri dari menggaruk setelah nyamuk-nyamuk melakukan sesi makan darah.

“Kadang-kadang bisa sedikit menyengat jika mereka membawa Anda ke tempat yang tepat, tetapi kebanyakan itu hanya sedikit iritasi. Ini benar-benar gatal nanti. Segera setelah saya melepaskan tangan saya, saya harus menahan keinginan untuk menggaruk,” kata Ross, melansir dari Oddity Central, Kamis (1/10/2020).

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement