Tidak bisa dipungkiri bahwa pasien Covid-19 tanpa gejala atau yang biasa disebut OTG cukup banyak. Menurut laporan Pandemic Talks, OTG pasien Covid-19 itu angkanya mencapai 80 persen. Hal ini tentunya harus jadi perhatian semua orang, karena penyebar virus bukan orang yang sakit parah.
Di beberapa kasus, pasien Covid-19 OTG memilih untuk menjalani perawatan dengan isolasi mandiri. Ini dilakukan karena mereka merasa tidak memiliki gejala. Sementara itu, kamar isolasi di rumah sakit pun semakin menipis setiap harinya.

Nah, situasi ini yang kemudian membuat pasien OTG harus memantau kondisi kesehatannya sendiri dan kemudian melaporkannya ke Puskemas wilayah kediamannya. Data yang dilaporkan berupa suhu tubuh harian, tekanan darah dengan pengaturan alat tensi, dan bagaimana kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Baca Juga : Cinta Laura Bergaya ala Boneka Timur Tengah, Tatapan Matanya Menusuk Kalbu!
Tapi, yang kerap dilupakan adalah saturasi oksigen yang berkaitan dengan kondisi Happy Hypoxia yang ternyata membunuh pasien Covid-19 secara diam-diam. Karena itu, Dokter Spesialis Paru Primaya Hospital Karawang dr Nurhayati, SpP, mengibau agar pasien OTG isolasi mandiri memiliki alat bernama pulse oximeter.
"Alat tersebut dapat membaca saturasi oksigen dalam tubuh pasien OTG dan ini meminimalisir risiko keparahan kondisi kesehatannya," terang dr Nurhayati pada Okezone, Rabu (9/9/2020).
Dijelaskan dr Nurhayati, pasien OTG isolasi mandiri sangat disarankan untuk memiliki alat ini karena pada banyak kasus, pasien Covid-19 tidak sadar kalau dirinya mula kehilangan okisgen dalam tubuh yang menyebabkan sesak napasnya sangat parah.
Nah, dengan rutin melakukan pemeriksaan dengan pulse oximeter, pasien OTG yang merasa tidak mengalami gejala apa-apa jadi tahu status saturasi oksigennya.