Karena itu, menjadi sebuah fakta ketika hasil Rapid Test Covid-19 menyatakan non-reaktif tetapi sejatinya di dalam tubuh pasien terdapat virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19.
"Kemampuan Rapid Test untuk mengidentifikasi dengan benar mungkin tidak selalu relevan secara klinis. Ini bisa terjadi karena tingkat virus di dalam tubuh seseorang sangat rendah, sehingga tak 'terbaca' Rapid Test," paparnya dikutip dari New York Post.

Tingkat virus yang rendah ini maksudnya adalah kondisi saat pasien baru mulai 'kemasukan' virus sehingga infeksi yang terjadi belum begitu masif. "Saat virus sudah mereplikasi menjadi semakin banyak, di situlah dikatakan tingkat virus tinggi," terang dia.
Dengan fakta tersebut, dr Humphries pun mengkhawatirkan potensi terjadinya penyebaran virus yang lebih masif karena status 'bebas corona' yang tak valid dari Rapid Test Covid-19.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.