Sebelum pemerintah membuat aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Fati biasa menghabiskan 15 menit waktu perjalanan ke tempat kerja dari co-living Flokq. Selama pandemi, Fati melakukan seluruh pekerjaan dari ruang co-livingnya. Ia pun sama sekali tidak kehilangan segala kelebihan, yang juga biasa dirasakan di tempat kerjanya.
“Beberapa waktu terakhir, aku meluangkan lebih banyak waktu di apartemenku. Aku juga merasa mudah melakukan pekerjaan dengan rasa nyaman," terang Fati, kepada Okezone.
Sementara itu Garry (32), entrepreneur startup di Jakarta juga punya pengalaman sama tinggal di co-living. Selama pandemi corona, Garry tetap menjaga koordinasi dengan timnya, selagi Garry sendiri dapat membangun network dengan penghuni co-living lainnya.
“Pembatasan sosial umumnya akan mengurangi terjadinya pertemuan ataupun acara-acara lain. Tapi bagi saya risiko tersebut tidak begitu berpengaruh, karena saya tetap dapat bertemu dan membangun network dengan orang-orang yang berada di lingkungan co-living,” jelas Garry.
Bagi Garry pandemi corona ini menjadi masa-masa sulit untuk melanjutkan bisnisnya. Namun ia juga mempertimbangkan keselamatan diri dan timnya dalam bekerja.
“Ini merupakan masa-masa yang sulit, bukan hanya bagi usaha saya, namun juga orang lain," ungkapnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.