Terinfeksi COVID-19 saat hamil tua, membuat perasaan Natasha dan sang suami, bercampur aduk. Natasha menuturkan saat ia dibawa ke rumah sakit , pihak rumah sakit sempat kebingungan karena belum ada pasien COVID-19 yang dalam kondisi mengandung seperti dirinya. Sehingga pihak rumah sakit harus secepatnya menemukan rumah sakit yang punya fasilitas lengkap untuk ibu hamil.
Akhirnya, Natasha pun dirawat di National University Hospital (NUH) dan dirawat di kamar isolasi selama tiga hari. Diisolasi sendirian selama tiga hari, wanita 28 tahun tak menampik dirinya merasa takut dan tak berdaya.
Namun rasa bingung dan takut ini coba dilawan Natasha, saat itu ia memikirkan jika dirinya semakin khawatir maka sang bayi bisa lahir sebelum waktunya. Ia mencoba fokus untuk tidak melahirkan selagi dirinya masih dinyatakan positif COVID-19.
Jika ia terpaksa melahirkan saat masih dinyatakan positif, Natasha harus langsung berpisah dengan bayinya begitu sang bayi dilahirkan. Sang bayi juga harus dinyatakan negatif dari tes yang dilakukan selama tujuh hari, sebelum akhirnya bisa digendong oleh Natasha.
Mengingat kondisinya yang unik, selama di rumah sakit Natasha dan Pele menjalani tes swab setiap hari, bukan per dua hari seperti biasanya. Untuk dinyatakan negatif COVID-19, dua tes swab berturut-turut pasien harus menunjukkan hasil tes negatif.
Di hari ke-10 di rumah sakit, Natasha diberitahu bahwa ia telah negatif COVID-19, dengan hasil tes double negatif. Keesokan harinya, Pele juga telah boleh keluar rumah sakit karena telah negatif COVID-19.
Tim ginekologi rumah sakit NUH mengatakan bahwa jika dalam lima hari berikutnya, Natasha akan melahirkan, maka tim medis akan melanjutkan perawatan dan penanganan seolah-olah Natasha masih positif. Artinya bayi Natasha harus langsung diambil dan dipisahkan dari ibunya.