SUDAH menjadi tradisi di masyarakat Indonesia, saat menjalani bulan suci Ramadhan pasti menyelenggarakan acara buka puasa bersama atau biasa disebut bukber. Namun Ramadhan tahun ini, dijalani dengan suasana sangat berbeda.
Jika biasanya meriah dan sederet jadwal bukber, bersama teman sekolah, rekan kerja, sanak-saudara sudah padat menanti. Kini, berbuka puasa hanya bisa dilakukan di rumah masing-masing karena situasi pandemi virus corona COVID-19 yang membuat seluruh masyarakat harus karantina mandiri di rumah dan menaati PSBB (pembatasan sosial berskala besar).
Tidak ada acara buka puasa bareng alias bukber ini sendiri tentu ada nilai plus dan nilai minusnya. Okezone mencoba menggelar jajak pendapat melalui survei online ke 20 orang, terdiri dari pria dan wanita dengan rentang usia 23-40 tahun dari latar belakang berbagai profesi. Mulai dari ibu rumah tangga, pegawai swasta, dan pegawai negeri.
Menariknya, ketika ditanya apa manfaat dari tidak adanya acara bukber, semua 20 orang koresponden kompak menjawab bisa membuat mereka mengirit pengeluaran.

Mengingat biasanya acara bukber dilakukan di restoran atau di mall, yang mana biayanya tentu jauh lebih besar ketimbang buka puasa di rumah. Ditambah, biasanya dalam satu bulan berpuasa, acara bukber yang diikuti lebih dari dua sampai tiga kali acara.
Selain membuat irit pengeluaran sehingga bisa menabung, nilai plus lain nomor dua yang banyak disebut para netizen ialah dengan tidak acara bukber karena sedang PSBB sehingga berbuka puasa selalu di rumah, membuat bisa lebih khusyuk dan tenang beribadah karena bisa menunaikan shalat Magrib dan Tarawih dengan tenang dan tepat waktu sebab tidak perlu mengantri lama di musola yang ada di mal.
“Salat Magrib tepat waktu enggak perlu antri di musala mal,” aku Chintya.
“Pasti jadi enggak kelewat Tarawih,” imbuh Harris.
“Ibadah jadi lebih khusyuk, lebih baik. Susah banget kan salat Magrib di mal,” tambah Denna.
Nilai plus lainnya, ialah menjadi bisa punya waktu berkualitas bersama keluarga. Waktu dengan keluarga ini, seperti contohnya yang dikatakan Chadijah dan Anisa, ia manfaatkan untuk membantu sang ibu untuk memasak.
“Bisa lebih kreatif soal masak, dari enggak bisa jadi harus masak biar tidak bosan. Bantu ibu juga jadi lebih sering sekalian belajar masak. Jadi banyak bersyukur karena di luar sana mungkin banyak yang enggak bisa bukber bareng keluarganya,” ujar Chadijah dan Anisa.
Lain lagi dengan Bimo, menurut pria 25 tahun ini manfaat pertama yang ia rasakan tidak ada acara bukber di bulan puasa tahun ini karena pandemi COVID-19 adalah bisa mengurangi risiko dirinya tertular virus corona.
“Pertama sudah tentu bisa mengurangi risiko tertular virus corona, ya kalau dikaitkan dengan pandemi sekarang, dengan tidak bukber di luar kita juga membantu mempercepat supaya curva penularan bisa cepat turun,” ujarnya.
Meski banyak manfaat yang dirasakan dengan tidak adanya acara bukber di bulan Ramadhan tahun ini. Tetapi bukan berarti tidak ada minusnya, untuk nilai minus tidak ada bukber seperti biasanya, lagi-lagi semua koresponden kompak menjawab, minusnya dengan tidak ada acara buka puasa bersama mereka jadi kehilangan momen berkumpul terutama bersama kawan-kawan lama yang sudah tidak lama bertemu.
Mengingat, seperti contoh pendapat dari Indi, Iman dan Harris, biasanya acara bukber pasti dijadikan sekaligus ajang reuni sekolah.
“Jadi enggak catch up saja sama teman lama, mungkin biasa bukber jadi ajang reuni. Enggak bisa kangen-kangenan sama teman-teman. Rasanya kurang afdol kalau bulan puasa tanpa bukber, kumpul sama teman-teman itu jadi obat stres juga,” ungkap ketiganya.

Berbeda lagi dengan Silvi, sebagai full-time ibu rumah tangga minusnya tidak ada acara bukber saat bulan Ramadhan ialah dirinya jadi merasa bosan. Baik bosan dengan menu makanan di rumah, dan rindu akan suasana bersantap di restoran.
“Ya bosen bok, makan itu-itu lagi. Inginnya makan ala restoran dan makannya di restoran,”selorohnya.
Bagaimana Okezoners, setuju dengan pendapat para netizen di atas?
(Martin Bagya Kertiyasa)