Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Haru Perawat RSPI Sulianti Saroso Merawat Pasien COVID-19

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Minggu, 19 April 2020 |18:34 WIB
Kisah Haru Perawat RSPI Sulianti Saroso Merawat Pasien COVID-19
Kisah perawat RSPI Sulianti Saroso merawat pasien COVID-19 (Foto : BNPB Indonesia/Youtube)
A
A
A

Selain melakukan monitoring, setiap perawat juga ditugaskan untuk menyiapkan semua kebutuhan pasien. Termasuk bila pasien hendak mengganti baju, mengganti infus, dan memberikan suplai obat-obatan serta makanan.

Kebetulan, Nurdiansyah ditugaskan di ruangan rawat inap. Dalam arti lain, dia harus siap berjaga di salah satu dari 3 jadwal shift yang telah ditetapkan pihak rumah sakit, yakni pagi, siang, dan malam.

"Sekarang, satu perawat itu mengurus 2-3 pasien karena jumlah pasien terus bertambah, full banget. Untuk mengurus satu pasien biasanya memakan waktu selama kurang lebih 1 jam. Paling cepat 30 menit," papar Nurdiansyah.

Kisah Perawat

"Teman saya ada yang sampai 4 jam, karena memang ada pasien yang tidak berani ketika perawat hendak keluar dari ruangan. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah terus memberikan motivasi kepada mereka," imbuhnya.

Bila ada pasien yang mengeluh kesulitan bernapas, para perawat kata Nurdiansyah, selalu sigap untuk mengajarkan teknik napas dalam agar mereka menjadi lebih rileks.

Pasien juga akan diarahkan untuk melihat hal-hal positif, karena salah satu kunci meningkatkan imunitas tubuh dalam melawan COVID-19 adalah hati yang gembira dan pikiran positif.

Selama bertugas merawat pasien corona, Nurdiansyah mengaku telah melalui berbagai momen suka dan duka. Terlebih seiring berjalannya waktu, jumlah pasien positif semakin bertambah banyak.

"Dukanya, teman-teman sejawat kami banyak sekali yang mengalami stigma negatif. Ada teman saya yang diusir dar kontrakan karena pemiliknya tahu teman saya membantu merawat pasien corona. Ada juga teman saya yang anaknya diasingkan oleh tetangga di sekitar rumahnya," ungkap Nurdiansyah.

Selain itu, jumlah perawat maupun tenaga kesehatan yang turut terinfeksi virus corona juga bertambah. Nurdiansyah mengatakan beberapa temannya terbukti positif corona akibat tertular dari pasien yang mereka rawat.

"Ironisnya, ada yang tertular karena ketidakjujuran pasien. Di bulan-bulan ini kita memang penuh dengan duka. Teman-teman perawat yang semakin positif semakin banyak, yang meninggal juga banyak," beber Nurdiansyah.

"Kita sempat memberikan pita hitam sebagai bentuk duka kita kepada teman-teman sejawat," lanjut dia.

Nurdiansyah pun berharap kepada masyarakat, agar bersama-sama melakukan upaya pencegahan. Karena satu-satunya cara untuk melawan COVID-19 ini adalah pencegahan.

"Kalian berada di garda terdepan sebelum infeksi terjadi. Jadi lakukanlah upaya pencegahan sebaik mungkin. Harapan kedua, saya meminta pemerintah untuk melindungi teman-teman kami dengan APD yang seharusnya. Jangan sampai teman-teman mencari sendiri, pemerintah lebih tau APD yang betul. Lindungi kami dari jam kerja maupun rotasi," tandasnya.

(Helmi Ade Saputra)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement