Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dampak COVID-19, Ratusan Ribu Pasien Gagal Ginjal di Indonesia Terancam

Dampak COVID-19, Ratusan Ribu Pasien Gagal Ginjal di Indonesia Terancam
ilustrasi: okezone
A
A
A

IMBAS dari pandemi virus corona (COVID-19) yang melanda Indonesia, sekitar 200.000 pasien gagal ginjal terancam meninggal. Pasalnya, daya tubuh yang rendah membuat risiko kematian mereka meningkatkan tajam ketika mereka terkena virus corona.

Selain itu, prosedur kesehatan yang rumit menyebabkan pasien terlantar untuk melakukan cuci darah di tengah tenaga medis yang fokus mengatasi wabah virus corona.

Hal ini diungkapkan Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) serta ahli epidemiologi dan biostatistik.

Dilansir BBC Indonesia, Kamis (9/4/2020), Pemerintah mengakui adanya modifikasi protokol kesehatan dan berusaha semaksimal mungkin untuk memastikan semua layanan kesehatan bagi pasien kronis termasuk pasien gagal ginjal.

Seperti diutarakan Dela Yusmarna, seorang pasien gagal ginjal kronis (CKD), hipertensi resistant, autoimmune anemia hemolytic (AIHA) atau kelainan sel darah merah, dan penyempitan batang otak. Saat ini kondisi tubuhnya sangat lemah dan rapuh. “Sedikit debu saja bisa membuat tubuhnya demam, sesak nafas, dan batuk,” ujarnya.

Dela pun menjalani cuci darah atau hemodialisa (HD) dengan kondisi demam dan sesak nafas. Namun situasi berat dialami Dela pada Senin pagi (30/3) lalu saat ida menghadiri jadwal rutin cuci darah di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Pusat. Saat itu kondisi dia demam dan sesak nafas akibat dari cairan yang menumpuk.

Ketika tiba di depan pintu masuk, Dela ditolak masuk, jadwal cuci darahnya pun batal padahal kondisi badannya saat itu sudah sangat sakit. Dia pun dirujuk ke rumah sakit rujukan, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto.

Saat di RSPAD, Dela masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Ia menjalani isolasi 13 jam di sana. Dia juga tidak menjalani cuci darah, namun melakukan dua kali rapid test dan tidak diketahui hasilnya. Setelah itu, ia tidak boleh pulang dan kembali masuk untuk menginap sehari di sana IGD.

Esok paginya, Dela masuk ke kamar mandi yang digunakan sebagai disinfektan chamber, lalu dimasukan dua pasien positif corona dalam ruangan itu.

"Badan saya sakit, saya ketakutan, tidak ada suami saya, dikasih nasi kotak sekali, lalu digabung sama pasien corona. Saya minta pulang. Dokter bilang oke pulang setelah dikasih obat infus untuk tensi dan tes swab. Kemudian jam 10 malam baru boleh pulang. Artinya dua hari saya di IGD," ungkap Dela.

Dela yang memiliki jadwal cuci darah tiga kali seminggu itu mengatakan, hasil tesnya menunjukkan negatif virus corona. "Kenapa sih rumah sakit tempat saya biasa HD harus menolak? Dan kenapa di RSPAD saya tidak dicuci darah berbarengan dengan tes Covid? Kenapa semua terasa sulit dan rumit? Saya itu sakit komplikasi. Saya butuh cuci darah, kalau tidak saya bisa mati," sesalnya.

Seharusnya kata Dela, pihak rumah sakit menyediakan fasilitas cuci darah. “Mau saya positif atau negatif, jangan dilempar-lempar, ditelantarkan. Dan pasien cuci darah itu wajar demam, sesak nafas dan batuk, jadi jangan ditolak tapi dirawat.Seminggu kemarin itu, dari jadwal saya tiga kali cuci darah per pekan, jadi hanya sekali. Saya tidak tahu apakah akan terus begini dan tubuh saya tetap kuat? Saya cuma bisa berdoa," urainya.

Oleh karena itu, ia meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan pasien-pasien penyakit kronis di tengah pandemi virus corona karena nyawa mereka juga berada di ujung tanduk.

Sementara itu, Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) telah mengeluarkan buku panduan agar diterapkan di seluruh rumah sakit di Indonesia bahwa pasien cuci darah harus mendapatkan hemodialisa di tempat biasa mereka cuci darah.

"Kita harus meng-HD pasien di tempat masing-masing. Kalau biasa di RSPAD maka wajib di sana. Kalaupun mau dikirim ke tempat lain, saya sebagai dokter ginjal di RSPAD harus komunikasi dengan dokter ginjal di tempat tujuan untuk memberitahu alasan dirujuk, dan ketersediaan tempat di RS rujukan," kata Jonny yang juga pengurus Pernefri.

Pedoman tersebut, kata Jonny, telah dikeluarkan beberapa hari lalu dan diharapakan seluruh rumah sakit untuk menjalankannya.

Menurutnya, pasien cuci darah memiliki daya tahan tubuh rendah, tiap rumah sakit sudah memiliki ketersediaan alat pelindung diri yang cukup, dan mencegah penumpukan pasien cuci darah di rumah sakit rujukan.

"Dengan perbaikan melalui panduan dari Pernefri, APD lebih siap, pemeriksaan Covid-19 lebih cepat, harusnya tidak ada lagi hal-hal seperti itu. Tiap RS harus meng-HD pasiennya. Jika dicurigai terinfeksi Covid, petugas menggunakan APD lengkah, ditempatkan di tempat khusus, dan tidak boleh ditolak, dirujuk-rujuk," tutup Jonny.

Hal senada juga diutarakan Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Samosir. Dia meminta pemerintah memberikan perlakukan khusus bagi pasien yang menderita penyakit kronis yang membutuhkan perlakukan khusus, seperti pasien cuci darah.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement