Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perjuangan Mumun si Tukang Sayur, Hadapi Corona demi Sesuap Nasi

Leonardus Selwyn Kangsaputra , Jurnalis-Selasa, 24 Maret 2020 |10:54 WIB
Perjuangan Mumun si Tukang Sayur, Hadapi Corona demi Sesuap Nasi
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
A
A
A

DAMPAK dari pandemi virus corona atau COVID-19, membuat banyak masyarakat memilih untuk berdiam diri di rumah saja. Meski demikian, masih ada orang-orang yang nekat keluar rumah, demi menyambung hidup.

Salah satu orang yang melakukannya adalah Mumun (nama samaran). Di tengah pandemi virus corona COVID-19, Mumun tetap fokus pada bisnisnya. Mumun berjualan sayuran matang.

Alhasil, setiap pagi Mumun masih harus pergi ke pasar untuk berbelanja bahan baku di tengah sosialisasi social distancing pemerintah.

pasar

Ketika social distancing, semestinya orang harus menjaga jarak sekira 1-2 meter dalam beraktivitas. Namun Mumun kesulitan melakukan hal itu, karena situasi pasar yang ramai pengunjung.

Bahkan Mumun mengaku sebenarnya agak takut saat berbelanja bahan baku ke pasar. Tapi faktor ekonomi, mengharuskan Mumun untuk tetap berjualan makanan, agar bisa menyambung hidup.

Karena sang suami, saat ini sudah tidak bekerja. Jadi Mumun lah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Selain masalah ekonomi, beberapa pelanggan pun memaksa Mumun untuk tetap berjualan. Sebagian orang kompleks memilih untuk membeli sayur matang di tempat Mumun, ketimbang harus ke pasar untuk membeli sayuran segar.

Sebagai antisipasi penyebaran virus corona atau COVID-19, Mumun pun menggunakan masker saat berbelanja ke pasar. Langkanya masker bedah membuat Mumun memilih untuk menggunakan masker kain.

Mumun menerapkan sistem belanja secara cepat, dengan mengunjungi penjual sayur langganan untuk membeli bahan baku yang dibutuhkan. Lalu dia bergegas pulang untuk melanjutkan aktivitasnya.

Di sisi lain, Susan yang merupakan seorang ibu rumah tangga, memilih cara yang berbeda, ketimbang Mumun dalam berbelanja kebutuhan sehari-hari. Susan memilih untuk belanja kebutuhan sehari-hari, melalui tukang sayur keliling. Ia menilai belanja di tukang sayur keliling jauh lebih aman, karena jauh lebih sepi ketimbang belanja di pasar.

Meski demikian, Susan menyebut kelemahan berbelanja di tukang sayur adalah harganya yang sedikit lebih mahal dan barang-barangnya yang kurang lengkap.

(Dewi Kurniasari)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement