PENERAPAN social distancing guna mencegah penularan virus corona diterapkan lewat berbagai cara, misalnya dengan melakukan sistem work from home atau bekerja dari rumah. Sedangkan bagi yang harus tetap berangkat kerja mesti menjaga jarak dengan orang lain termasuk ketika naik transportasi umum semisal Transjakarta.
Aturan jaga jarak sendiri sudah ditetapkan oleh pihak perusahaan milik BUMD DKI tersebut. Tidak hanya itu, social distancing juga diberlakukan di armada MRT. Para pengguna angkutan massal tersebut tidak hanya harus berdiri berjarak di satuan jarak yang ditentukan ketika berada di peron atau saat mengantri masuk di gate tap-in.
Pemberlakuan jaga jarak ini juga berlaku di dalam kabin MRT, yaitu setiap penumpang harus duduk berjarak setidaknya melewati satu bangku dengan penumpang lainnya.
Pihak MRT Jakarta memang telah menempelkan tanda stiker X, menandakan mana saja bangku-bangku di dalam kereta yang tidak boleh diduduki oleh penumpang. Hal ini agar penumpang tidak duduk berdempetan atau berdekatan satu sama lain.

Social Distancing di MRT. Foto: Pradita Ananda/Okezone
Lalu apakah penerapan social distancing di MRT ini dirasa efektif sebagai salah satu upaya meminimalisasi penyebaran virus corona COVID-19? Ady yang sehari-hari menggunakan jasa MRT untuk mobilisasi ke kantornya di kawasan Setiabudi, mengatakan dirinya merasa konsep jaga jarak yang ditetapkan ini memang efektif untuk meminimalisasi kontak dekat dengan penumpang lainnya.
“Efektif sih, karena dengan dilakukan social distancing, kan jelas mengurangi jumlah orang di dalam suatu angkutan umum tersebut, contohnya di MRT ini. Biar makin efektif, kita masyarakat ikuti apa yang sudah disarankan oleh petugas terkait, jadi jangan membuat aturan sendiri,” ujarnya saat diwawancara Okezone.