Dalam sebuah studi tahun 2005 yang diterbitkan di Virology Journal, para ilmuwan mencatat bahwa obat tersebut menunjukkan efek anti-virus yang kuat terhadap virus korona/COVID-19, kontributor atas sindrom pernafasan akut yang parah (SARS).
Para peneliti menemukan bahwa klorokuin ini dapat menghambat virus, ketika diobati pada primata, sebelum atau setelah terpapar virus. Obat anti-malaria ini nampaknya menargetkan enzim pengonversi angiotensin 2 (ACE2), termasuk SARS-CoV-2.
Nah, manfaat dari klorokuin yang diteliti di masa lalu, mendorong minat para peneliti untuk mencoba klorokuin pada pohon kina, bisa mengatasi virus korona/COVID-19. Para peneliti di China, disebutkan sedang menguji obat anti-malaria pada lebih dari 100 pasien COVID-19 di sekitar 10 rumah sakit.
Menurut para ilmuwan, pasien yang menerima klorokuin menunjukkan lebih banyak peningkatan daripada pasien yang tidak dirawat dengan klorokuin.
Pasien yang dirawat dengan klorokuin, menunjukkan adanya penurunan demam dan proporsi lebih cepat pulih yang lebih besar. Diketahui lebih lanjut, China National Center for Biotechnology mengungkapkan, para ahli telah mengusulkan penggunaan obat klorokuin ini dalam uji klinis yang lebih luas.