Mendobrak budaya patriarki
Pada aksi Women's March tahun ini, Margianta turut menyoroti sejumlah isu kesetaraan gender yang masih mengakar di Indonesia. Hal tersebut tidak terlepas dari hukum maupun kebijakan yang sifatnya masih mengedepankan nilai-nilai patriarki.
"Hukum kita itu masih patriarkis, kebijakan kita masih patriarkis. Buktinya darimana? Bisa dilihat dari RUU Ketahanan Keluarga dan Omnibus Law seperti. Begitu diskriminatifnya rancangan kebijakan pemerintah ini kepada para pekerja perempuan, dan perempuan yang termarjinalkan," katanya.
Margianta pun menyayangkan keputusan pemerintah yang dia klaim tidak melibatkan masyarakat atau orang-orang yang terdampak langsung oleh rancangan kebijakan tersebut.
Ambil contoh Omnibus Law. Istilah ini mulai dikenal luas sejak pidato pelantikan Presiden Joko Widodo pada Oktober 2019 lalu. Pada dasarnya, Omnibus law lebih banyak berkaitan dalam bidang kerja pemerintah di bidang ekonomi.
Perlu diketahui pula bahwa dalam bahasa latin omnis berarti banyak. Artinya, omnibus law bersifat lintas sektor yang sering ditafsirkan sebagai UU sapujagat.
Contohnya di sektor ketenagakerjaan, pemerintah berencana mengubah skema pemberian uang penghargaan kepada pekerja yang terkena PHK. Besaran uang penghargaan ditentukan berdasarkan lama karyawan bekerja di satu perusahaan.
Namun, dalam proses perancangannya, Margianta mengatakan pemerintah justru tidak melibatkan para pekerja yang terdampak langsung oleh kebijakan tersebut.
"Omnibus Law kenapa yang diajak berdialog hanya bos-bosnya saja atau pemegang modal saja. Orang yang terdampak setiap hari tidak pernah diajak. Menurut saya, hal ini karena ada pandangan yang sangat klasis, bahwa para pekerja itu tidak terdidik," papar Margianta.
"Jadi, pemerintah kalau mau bikin kebijakan khususnya menyangkut hajat orang banyak, menyangkut hajat perempuan adat, atau perempuan yang termajinalkan, tolong libatkan perempuan-perempuan tersebut," tambahnya.
Maka dari itu, aksi-aksi global seperti Women's March ini harus dilokalisasikan, tentunya dengan konteks lokal agar masyarakat menjadi tergerak, merasa simpati, dan tertarik untuk memberikan dukungan.
"Itu lah sebabnya kita semua perlu untuk turun ke jalan, untuk menyuarakan pentinya kesetaraan gender bagi semua orang. Karena yang diuntungkan tidak hanya perempuan, tetapi laki-laki dan kaum lainnya," ucap Margianta.
(Muhammad Saifullah )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.