Tahun ini, Margianta kembali mengenakan kostum superhero. Alasannya pun lagi-lagi sama. Namun, Margianta menegaskan bahwa penggunaan kostum-kostum tersebut juga bertujuan untuk mengubah mindset masyarakat terhadap isu-isu yang selama ini mereka anggap terlalu serius. Dia menyebutnya dengan istilah 'Teatrikalitas untuk Perjuangan'.
"Teatrikalitas itu penting menurut saya. Lewat cara inilah saya dapat menarik perhatian dan simpati publik. Contohnya mas sendiri. Tadi mas mendatangi saya karena mungkin melihat penampilan saya berbeda dengan yang lain," ucap Margianta.
Lebih lanjut dia menjelaskan, di balik pemilihan kostum Batman ini, sebetulnya juga terdapat sebuah makna tersirat. Batman, kata Margianta, merupakan sosok superhero yang seharusnya tidak ada.
Dia terpaksa muncul karena telah terjadi kesenjangan ekonomi dan sosial di Kota Gotham (kota fiksi di film tersebut). Kesenjangan inilah kemudian berkontribusi memicu terjadinya ketidakadilan gender.

"Lewat kostum ini, saya ingin menyampaikan pesan bahwa Batman itu memang seharusnya tidak ada. Superhero itu adalah kita-kita semua, atau para perempuan-perempuan yang termajinalkan, yang setiap hari teropresi oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang seksis, misogynist, klasis, dan diskriminatif," ungkapnya.
Kendati demikian, Margianta menegaskan partisipasinya pada aksi ini hanya sebatas aliansi, mitra, dan pendamping saja. "Laki-laki memang berperan penting daam gerakan kesetaraan gender, tapi kita tidak boleh mengambil spotlightnya. Biarkanlah perempuan yang berbicara, saatnya kita memberikan ruang untuk mereka. Karena selama ini laki-laki sudah memiliki privilege dari segi sosial, politik, dan budaya," ungkap Margianta.