Virus korona (COVID-19) yang menyerang berbagai negara sejak empat bulan lalu telah membuat banyak masyarakat dunia menjadi ketakutan. Saat ini banyak orang yang mengalami flu dan menganggap dirinya terserang COVID-19 karena tidak mengetahui perbedaan penyakit tersebut.
Tentunya antara flu musiman yang biasa dialami masyarakat Indonesia selama musim penghujan memiliki gejala yang berbeda dengan COVID-19. Kedua virus flu yang meliputi virus influenza A dan influenza B serta COVID-19 adalah virus menular yang menyebabkan penyakit pernapasan.
Gejala-gejala flu yang khas adalah demam, batuk, sakit tenggorokan, sakit otot, sakit kepala, pilek atau hidung tersumbat, kelelahan dan kadang-kadang disertai muntah dan diare. Gejala flu sering muncul secara tiba-tiba dan kebanyakan orang yang terkena penyakit ini akan sembuh dalam waktu kurang dari dua minggu lamanya.

Sebagaimana dilansir Live Science, Senin (9/3/2020), pada beberapa orang, flu dapat menyebabkan komplikasi termasuk pneumonia. CDC mengatakan pada muslim flu, sekira satu persen orang di Amerika Serikat (AS) mengalami gejala yang cukup parah untuk dirawat si rumah sakit yang mirip dengan tingkat keparahan musim lalu.

Sementara untuk kasus COVID-19, dokter masih berusaha memahami gambaran lengkap tentang gejala dan keparahan penyakit ini. Gejala yang dilaporkan pada pasien bervariasi mulai dari yang ringan sampai yang berat dan meliputi demam, batuk dan sesak napas.
Secara umum, penelitian pada pasien rawat inap COVID-19 telah menemukan bahwa sekira 83 persen hingga 98 persen pasien mengalami demam. 76 persen hingga 82 persen pasien mengalami baru kering dan 11 persen hingga 44 persen mengalami kelelahan atau nyeri otot. Hasil penelitian ini dirangkum dalam studi review COVID-19 yang diterbitkan pada 28 Februari di jurnal JAMA.
Gejala-gejala lain COVID-19 adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, sakit perut dan diare meskipun jarang dilaporkan terjadi pada pasien. Studi terbaru dari Pusat Pengendalian dan Perlindungan Penyakit China menganalisis ada 44.672 kasus yang dikondirmasi di China antara 31 Januari, dan 09 hingga 11 Februari 2020.
Dari kasus tersebut 80,9 persen atau 36.160 kasus dianggap ringan, sementara 13,8 persen atau 6.168 kasus dianggap parah dan 4,7 persen atau 2.087 dinyatakan kritis.
“Kasus-kasus kritis adalah yang menunjukkan kegagalan pernafasan, syok septic atau disfungsi maupun kegagalan banyak organ,” tulis para peneliti dalam makalah di China CDC Weekly.

(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.