Pada tahun 2009, yang mana saat itu sedang maraknya flu babi, justru produk gel tersebut menjadi sesuatu yang dicari-cari oleh masyarakat. Hand sanitizer juga menjadi sesuatu yang selalu dibawa-bawa oleh masyarakat. Maka di tahun itu, penjualan gel dan tisu antibakteri di AS melonjak lebih dari 70% dalam 6 bulan.
Sementara dalam masa tersebarnya COVID-119, Sally Bloomfield, seorang profesor di London School of Hygiene anda Tropical Medicine telah mengatakan, virus jauh lebih tahan terhadap desinfektan daripada bakteri. Menurutnya, COVID-19 tergolong virus amplop, yang berarti memiliki lapisan di sekitarnya, yang dapat diserang alkohol.
Walaupun hand sanitizer berpotensi efektif melawan beberapa bakteri, tetapi ini bukanlah sesuatu yang akan direkomendasikan. "Karena produk yang dibeli di toko juga mengandung omolien untuk membuatnya lebih lembut di kulit, yang berisiko justru menyakiti tangan Anda," ungkap Bloomfield.