Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Naufal Raziq, Pemuda Penemu Pembangkit Listrik dari Buah Kedongdong

Wilda Fajriah , Jurnalis-Jum'at, 28 Februari 2020 |15:51 WIB
   Naufal Raziq, Pemuda Penemu Pembangkit Listrik dari Buah Kedongdong
foto: Okezone
A
A
A

LISTRIK telah menjadi kebutuhan primer atau kebutuhan pokok bagi keberlangsungan hidup manusia di era sekarang ini. Semua aktivitas sehari-hari kita berkaitan dengan listrik, misalnya penggunaan barang elektronik untuk menunjang kegiatan kerja seperti komputer, laptop, gadget dan yang terpenting yaitu kita membutuhkan penerangan, bayangkan jika kita hidup tanpa penerangan, mungkin semua aktivitas kita terganggu.

Meskipun Indonesia sudah merdeka, namun masih ada saja daerah yang belum merasakan listrik. Miris tentunya, di daerah terdepan justru untuk penerangan sehari-hari pun masih banyak yang menggunakan lilin, terasa begitu timpang dibandingkan ibukota banyak yang memakai listrik secara boros.

Melihat realitas tersebut, beberapa generasi bangsa mencari solusi untuk mencari sumber energi listrik alternatif. Salah satu dari pemuda berbakat itu adalah Naufal Raziq, bocah ajaib ini penemu pembangkit listrik dari buah kedondong, dia berhasil menemukan sumber energi listrik yang sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ya, ia mendapati fakta kalau pohon kedondong ternyata ternyata memiliki aliran listrik yang bisa dimanfaatkan.

Naufal menemukan energi terbarukan atau energi yang dapat diprbaharui dari pohon kedondong. Ya, jika biasanya kita mendengar energi listrik dihasilkan dari tenaga surya, tenaga angin, arus air atau panas bumi, kini bisa diperoleh dari pohon.

Berawal dari kecintaanya terhadap pelajaran Sains atau IPA, dan rasa keingintahuan naufal tinggi, dia melakukakan eksperimen atas pernyataan gurunya mengenai asam yang terkandung dalam buah-buahan, bocah ini tertarik dan ingin membuktikan apakah buah juga dapat menghasilkan listrik.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement