Sementara itu Ahli Bahasa Inggris yang juga Direktur Women’s Studies, Jeannie Ludlow mengatakan ketika akun palsu yang berada di platform online (media sosial) mengungah hal yang bersifat seksual tentang orang lain, tidak berarti pesan tersebut harus dianggap kurang serius. Hal tersebut bisa saja terus berkembang dengan pesat jika tidak ditindak dengan serius.
Lebih lanjut, menurut laporan AAUW, siswa memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengalami catcalling. Namun, sebagian besar siswa mengatakan menyebarkan tentang seksual, memata-matai, dan mengirim pesan yang tidak pantas tentang mereka di internet akan lebih menggangu daripada disentuh, dicengkeram, atau dicubit secara langsung.
AAUW juga melaporkan ada tiga alasan utama yang membuat seseorang berani melakukan catcalling, yakni sebagai lucu-lucuan, berpikir orang yang mengalami catcalling akan menyukainya, atau merupakan tindakan normal yang dilakukan oleh banyak orang dan tidak dianggap sebagai masalah yang besar.
Lalu bagaimana cara mengatasi masalah ini? Untuk mencegah hal tersebut terus terjadi, memblok akun pelaku merupakan hal termudah yang dilakukan. Namun tidak menutup kemungkinan hal itu juga bisa diselesaikan dengan memberikan konsekuensi yang lebih berat.
(Abu Sahma Pane)