Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Memperjuangkan Nama Tionghoa, Pintu Terbuka di Era Gus Dur

Abu Sahma Pane , Jurnalis-Minggu, 26 Januari 2020 |09:00 WIB
Kisah Memperjuangkan Nama Tionghoa, Pintu Terbuka di Era Gus Dur
Foto: Chen Sui Liang diambil dari VOA
A
A
A

Sampai tibalah Indonesia ke era Reformasi pada 1998, Orde Baru runtuh. Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur membuka pintu untuk Ivan, yakni dengan cara mencabut Inpres 1967. Presiden selanjutnya, Megawati Soekarnoputri, bahkan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional.

Chen Sui Liang

Pada momen itulah, Ivan merasa ingin merebut identitasnya kembali: menjadi Chen Sui Liang. Keinginan itu ditentang orangtuanya, yang takut anaknya akan mengalami diskriminasi ketika dewasa.

“Waktu itu karena orangtua biasa ada trauma psikologis, ya itu takut banget. Takut banget. ‘Udah lah, nama Indonesia aja’. Waktu itu sempat ada pertentangan juga, gimana kalau nanti ada masalah gini gini gini.. urus apa susah dan lain sebagainya,” terang Ivan.

Sampai pada 2004, saat berusia 23 tahun, Ivan bulat tekad. Dia pun mendatangi pengadilan di Solo. Namun perubahan nama tak semudah yang dia pikirkan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement