Diperkirakan 33 ribu orang meninggal di Eropa setiap tahun akibat bakteri yang kebal obat, menurut data Uni Eropa. Di Amerika, jumlah kematian itu diperkirakan sekitar 35 ribu.
"Kami menyaksikan penularan ini dan kami kehabisan antibiotik yang ampuh melawan bakteri yang kebal ini," ujar Peter Beyer, dari divisi obat esensial WHO, kepada wartawan di Jenewa.
Ditemukan pada tahun 1920an, antibiotik telah menyelamatkan puluhan juta nyawa dengan mengalahkan penyakit akibat bakteri seperti pneumonia, TBC dan meningitis.
Tetapi selama berpuluh-puluh tahun, bakteri belajar melawan, membangun kekebalan terhadap obat yang dulu mengalahkan mereka - berubah menjadi apa yang disebut "superbug".
Para petugas bandara mengukur suhu tubuh pendatang dengan thermometer elektronik di Bandara Internasional
Untuk mencegah bakteri menjadi kebal obat yang biasa digunakan, perlu ada antibiotik baru, tetapi bagi perusahaan farmasi, membuat produk baru yang kompetitif adalah rumit, mahal, dan tidak dianggap sangat menguntungkan.
Menurut WHO, ke 60 produk baru yang saat ini sedang dibuat - 50 antibiotik dan 10 biologik - "menghadirkan sedikit manfaat dibandingkan obat yang ada dan hanya dua yang menarget bakteri yang kebal dan paling kritis," yang disebut bakteri Gram-negatif.
Sejumlah obat lain yang masih dalam pengujian pra-klinis, lebih inovatif, kata WHO, tetapi perlu bertahun-tahun sebelum obat itu dipasarkan.
Dari 252 obat semacam itu yang masih dalam tahap pengujian sangat awal, dua hingga lima produk pertama bisa tersedia dalam waktu sekitar 10 tahun, menurut skenario optimistis, kata WHO.
"Sangat penting untuk memfokuskan investasi publik dan swasta pada pembuatan obat yang ampuh melawan bakteri yang sangat kebal itu," ujar Hanan Balkhy, Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Kekebalan Antimikroba, dalam pernyataan itu. "Kita tidak punya banyak pilihan,” katanya." Demikian seperti dikutip VOAIndonesia.
(Dinno Baskoro)