Stroke menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas 2018, penderita stroke di Indonesia mencapai 10,9 persen. Sebanyak 65 persen dari pasien stroke disebut mengalami kecacatan.
Salah satu kecacatan yang banyak dialami oleh pasien stroke adalah lumpuh. Jika sudah begini, berbagai macam terapi harus diikuti untuk mengambil kemungkinan bisa berjalan kembali.
Selain menggunakan terapi robotik, terapi lain yang membuka peluang kemampuan berjalan pada pasien stroke adalah hidroterapi. Ini merupakan terapi yang membutuhkan sejumlah latihan fisik dengan berendam di air hangat.

Dokter Spesialis Saraf, dr. Sukono Djojoatmodjo, Sp.S menjelaskan, hidroterapi dengan berenang berbeda. Sehingga persepsi masyarakat tentang berenang bisa mengobati stroke itu salah.
"Ini rahabilitasi hidroterapi. Ternyata di media air punya beberapa kelebihan, karena berat badan kita lebih ringan 30 persen. Lebih rileks, enak, suasana juga nyaman," ujar dr. Sukono saat ditemui di Klinik Wijaya, Jakarta Selatan, Minggu, 3 November 2019.
Ia melanjutkan, untuk pasien stroke, ada ketentuan yang harus dipenuhi dalam melakukan hidroterapi. Mulai dari temperatur air 33 derajat Celcius, hingga aspek lain yang membantu kemajuan latihan pasien.