Terlebih, di tanah Minang itu perempuan memiliki kekuasana khusus. Dia mengatur keluarga dan dia juga yang menghendaki keluarga itu mau seperti apa. Cerita ini dia angkat dan respons-nya luar biasa.
Kemudian terkait dengan batik, Rizka menambahkan, karena sekarang ini desainer kebanyakan memberi perhatian pada sustainable fashion, dirinya pun ingin berkontribusi dengan membuat batik zero waste. Jadi, koleksinya itu dibuat dengan tanpa pewarna kimia. Semuanya eco-print batik dan dari bahan alami.

"Jadi, pewarna batiknya kita buat dari salah satunya adalah tanah liat. Ke depannya, aku lagi coba mengembangkan batik yang pewarnanya terbuat dari tebu. Ini juga bakal jadi identitas koleksi aku yang zero waste," sambung Rizka.
Mengetahui hal tersebut, berdasar penuturan Rizka, banyak kemudian pencinta fashion di Paris yang tertarik untuk memiliki koleksi batiknya itu. Kebanyakan memang dari pihak Kedubes RI di Paris. "Bahkan, ada yang minta 50 pieces," singkatnya.