Titi menambahkan, sudah seharusnya masyarakat Indonesia menghapuskan nilai-nilai yang 'kelaki-lakian'. Sederhananya, pandangan patriarki itu dianggap tidak adil secara gender.
Ia pun yakin bahwa budaya patriarki ini masih bisa dihapuskan meski harus melalui proses yang panjang. Karena memang harus dimulai dari hal-hal yang kecil di rumah.

"Patriarki itu budaya. Budaya itu tercipta dari perilaku dan pikiran manusia. Saya yakin semuanya bisa diubah. Itu sebabnya, sejak kecil saya tidak pernah membedakan anak laki-laki dan perempuan saya. Memang tidak mudah, tapi harus terus disosialisaikan," kata Titi.
Pesan Titi untuk mahasiswa
Sebelum menutup wawancara, Titi menitipkan sebuah pesan untuk para mahasiswa yang telah dan masih berjuang dalam menyampaikan kegelisahan dan aspirasi rakyat Indonesia.
Baginya, suara mahasiswa adalah suara rakyat, dan suara rakyat adalah suara Tuhan. Seperti kutipan 'Vox Populi, Vox Dei' yang membuka artikel ini.
"Lanjutkanlah perjuangan kalian, jaga keselamatan, karena kita masih di sebuah sistem yang masih saja ada penguasa-penguasa dari zaman reformasi," tegas Titi.
"Saya mendukung penuh aksi mahasiswa, meski banyak isu yang mengatakan mereka ditunggai. Saya yakin ini murni dari hati nurani mereka, meski saya tidak tahu betul peta politik Indonesia saat ini," tukasnya. (hel)
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.