Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Titi Pudji, Nenek yang Viral Ikut Aksi Unjuk Rasa di Bandung

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Kamis, 26 September 2019 |08:26 WIB
Kisah Titi Pudji, Nenek yang Viral Ikut Aksi Unjuk Rasa di Bandung
Nenek viral ikut aksi unjuk rasa di Bandung (Foto : @cryingbrutally/Twitter)
A
A
A

Menghapus budaya patriarki di Indonesia

Meski kini usianya tidak muda lagi, Titi mengaku masih sering mengikuti aksi-aksi yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia dan perempuan. Bahkan pada aksi unjuk rasa hari ini, Titi sebetulnya masih dalam tahap pemulihan.

Lima bulan lalu, ia baru saja menjalani operasi ostheoarthritis, penyakit tulang yang dideritanya sejak beberapa tahun terakhir. Ia pun harus menggunakan tongkat sebagai alat bantu jalan.

"Aksi solidaritas Papua kemarin saya ikut, Kamisan kadang-kadang ikut. Event-event yang sifatnya perempuan juga saya ikut. Hari ini saya menguatkan diri untuk ikut walau harus pakai tongkat, dan tidak boleh terlalu lama berdiri serta jauh berjalan," timpalnya.

Lebih lanjut, Titi mengatakan, sejak dulu, salah satu visi utamanya menjadi seorang aktivis adalah menghapuskan budaya patriarki yang telah mendarah daging di tengah masyarakat Indonesia. Untuk tujuan mulia itu, ia dan beberapa alumni Antropologi Unpad 80', mendirikan sebuah Yayasan Sidikara.

"Yayasannya di rumah. Jadi sekarang aktivitas saya memang lebih banyak di rumah. Tapi kami juga sering turun ke jalan kalau ada aksi-aksi tertentu. Sebetulnya ya mas, saya lebih senang disebut ibu rumah tangga," ujar Titi disambut gelak tawa.

Nenek Viral

Namun bila ada kesempatan, Titi selalu berusaha turun ke jalan untuk ikut menyuarakan aspirasinya. Fokus utamanya saat ini adalah mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan RUU PKS.

Menurutnya, undang-undang ini akan membawa perubahan besar bagi para korban-korban kekerasan seksual, dan tidak hanya untuk kaum perempuan saja.

"Saya dan teman-teman dari instutisi lain hanya mensupport aja, karena isu ini perlu didukung. Kita banyak yang belum tahu RUU PKS ini sudah ada dari tahun 2012, kenapa enggak disahkan saja? Ternyata di legislatif masih ada yang tidak mendukung, karena salah mentafsirkan. Mereka pikir RUU PKS ini untuk mendukung lgbt dan melegalkan seks bebas," bebernya.

Padahal, menurut Titi, RUU PKS justru akan memberikan akses perlindungan untuk para korban kekerasan seksual. Hal tersebut menjadi sangat penting, bila bercermin dari kondisi Indonesia saat ini, di mana semakin banyak kasus-kasus kekerasan seksual, terutama yang dialami perempuan di bawah umur.

"Pesan yang ada di poster saya itu tulus dari hati saya. Saya sekarang sudah punya cucu. Saya berharap di era cucu saya nanti budaya patriarki sudah tidak ada lagi. Karena semua kekerasan seksual itu bermuara dari patriarki," tegasnya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement