Bila sudah demikian, respons yang sering diambil oleh para pengguna cenderung apatis dan agresif. Mereka jadi lebih mudah emosi, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, hingga tidak bisa tidur nyenyak. Pada kondisi inilah seseorang dinilai harus melakukan detoks sosial media.
"Kalau memang dirasa sudah terlalu berlebihan, itu tandanya perlu detoks sosial media," tutur Adjie Santosoputro saat ditemui Okezone, belum lama ini.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa proses detoks Medsos sendiri tidak bisa dilakukan secara instan. Harus melalui proses dan tahapan-tahapan tertentu. Tujuannya adalah untuk mencegah efek yoyo diet yang justru membuat seseorang mengalami kecanduan lebih dalam, meski telah berupaya melakukan tindakan preventif.
"Itulah pentingnya mindfulness atau mengolah pikiran dan tubuh di tempat dan waktu yang sama secara bersamaan. Karena detoks sosial media itu bukan untuk membenci, tetapi bagaimana supaya kita tidak berlebihan menggunakannya," timpal Adjie.