“Namun kalau dia melihat orang di sekitarnya panik, hal itu akan membuat anak menganggap peristiwa yang dialaminya adalah sesuatu yang mengancam sehingga menimbulkan rasa cemas, khawatir, dan takut,” terang Ayoe.
Saat orang di sekitarnya menjelaskan dengan tenang, anak lebih bisa menerima peristiwa yang baru dialaminya. Setelah menjamin keamanan emosi anak, selanjutnya orangtua perlu memastikan anak berada dalam situasi aman. Berikan pemahaman jika dirinya akan baik-baik saja.
“Bisa dengan dibilang ‘Tenang, ada mama semua aman dan baik. You don’t have to worry’. Tujuannya agar tidak ada pandangan buruk dalam diri anak terhadap peristiwa yang dialami (seperti Aksi 22 Mei),” tandas Ayoe.
(Utami Evi Riyani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.