Orang-orang yang senang bepergian sewaktu masih lajang mungkin akan menemui kesulitan melakukan hobinya saat sudah bekeluarga. Terlebih bila dirinya memiliki pasangan yang kurang suka menjelajah daerah atau tempat tertentu. Belum lagi jika ia punya anak yang masih kecil dan masih membutuhkan perhatian lebih untuk diurus. Bisa jadi kondisi ini sedikit merepotkan.
Akan tetapi, hal ini tampaknya tak berlaku bagi Charlie Kingsland-Barrow. Sudah lima tahun ia habiskan untuk menjalani hidup nomaden alias berpindah-pindah bersama suami dan kedua anaknya. Keputusan tersebut diambil oleh keluarga kecil tersebut karena masalah yang datang menerpa.
Charlie mengalami trauma dari kejadian di masa lalunya yang membuat ia berjuang melawan post-traumatic stress disorder (PTSD). Sementara sang suami, Rob tiba-tiba kehilangan pekerjaan. Tak sampai di situ, harga sewa rumah yang mereka tinggali pun mendadak naik. Hal ini membuat pasangan dari Inggris tersebut berpikiran untuk tinggal di luar negeri.
Bagi Charlie dan Rob, biaya hidup di luar negeri akan jauh lebih rendah. Keduanya pun menjual barang-barang di tempat tinggalnya. Bermodalkan uang hasil penjualan dan tabungan senilai seribu poundsterling, keluarga itu kemudian memutuskan pindah ke Siprus pada 2014. Mereka pun menyewa sebuah villa sebelum hari keberangkatan.

Setibanya di negara tujuan, Charlie sempat merasa takut tidak bisa menyesuaikan diri. Terlebih melihat kedua anaknya yaitu Istria dan Summer yang masih balita. Tapi Rob kemudian meyakinkannya jika mereka bisa melewati semua itu. Pada awalnya memang tidak mudah, suaminya merindukan pekerjaannya dan terlalu banyak waktu luang bagi mereka.
"Namun di sana kami bisa menghabiskan banyak waktu bersama dan itu membuat pernikahan aku dan Rob menjadi lenih kuat serta anak-anak senang. Kami berenang di laut dan menonton flamingo terbang di atas danau. Kami merasa telah membuat keputusan yang tepat dan setelah enam bulan berlalu, kami memperpanjang masa tinggal di sana," tutur Charlie seperti yang Okezone kutip dari The Sun, Senin (22/4/2019).
Setelah tiga tahun menetap di Siprus, keluarga ini pun memiliki keinginan untuk menjelajah dunia. Selanjutnya mereka memilih Perancis sebagai tempat tingal. Lagi-lagi awalnya terasa sulit karena mereka sudah jatuh cinta dengan lingkungan rumahnya kala itu. Tapi Charlie dan Rob menyadari akan ada lebih banyak petualangan yang akan mereka alami.

Di Perancis, keluarga ini tinggal di chateau. Seiring berjalannya waktu mereka mulai jatuh cinta kembali dengan tempat tinggalnya termasuk makanan. Belum lagi Istria dan Summer belajar hal baru yaitu Bahasa Prancis. Bagi Charlie, pengalaman tersebut terasa seperti dongeng.
Setahun tinggal di Perancis, keluarga ini kemudian pindah ke Thailand pada Juni 2018. Di sana mereka mendapat pengalaman baru yaitu membantu merawat gajah di tempat perlindungan. Untuk urusan sekolah anak-anaknya, Charlie memilih untuk mengajarinya sendiri mengingat mereka hidup berpindah-pindah.

Beruntung kedua anaknya juga mampu beradaptasi. Mereka belajar tentang berbagai budaya, kota, dan hewan, serta berteman dengan anak-anak lain, hingga membantu orangtuanya menghitung uang di toko
"Aku tidak khawatir anak-anak kesepian. Meski demikian, kami pernah memiliki hari-hari yang membosankan dan merindukan teman serta keluarga kami di rumah. Tetapi kami tetap bisa datang berkunjung kembali untuk menghadiri acara-acara khusus dan kehadiran media sosial membantu kami tetap terhubung," terang Charlie.

Setelah empat bulan tinggal di Thailand, keluarga ini kemudian tinggal di China selama beberapa minggu lalu melanjutkan perjalanan ke Selandia Baru dan bekerja di pertanian. Tapi di bulan Maret kemarin, keluarga ini pindah ke Australia.
"Di sana aku bekerja sebagai pelatih kehidupan dan Rob telah mulai berkarier sebagai penulis skenario. Semuanya ini untuk membiayai perjalanan kami dari waktu ke waktu. Hingga saat ini aku masih harus mencubit diri sendiri untuk meyakinkan diri telah hidup sebagai nomaden selama 5 tahun," tandas Charlie.
Dirinya mengungkapkan masih ada banyak tempat yang ingin dikunjungi. Sebut saja Amerika Selatan dan Mongolia. Dengan semua masalah di masyarakat, Charlie senang anak-anaknya dapat bertemu banyak orang yang menarik, baik hati, dan melihat hal-hal luar biasa. Dia dan suami bertekad terus mendidik kedua anaknya untuk belajar jika dunia bukanlah tempat yang buruk.
(Helmi Ade Saputra)