“Datanya (wisnas keluar negeri) belum saya temukan. Tapi saya pastikan wisman selalu lebih tinggi dibandingkan wisnas. Itu bisa dilihat dari laporan BI. Devisa dari pariwista selalu surplus,” ungkapnya.
Arief juga mengimbau pihak maskapai untuk tidak menaikkan tarif tiket pesawat terlalu tinggi, karena dapat berdampak pada industri pariwisata.
“Pesan saya orang bisnis jangan melakukan kenaikan tarif besar dan mendadak kalau kalian tidak mau menghancurkan industri. Naik tidak apa-apa, tapi naik besar dan mendadak itu masalah,” lanjutnya.
Arief juga menjelaskan teori elastisitas dalam bisnis. Menurutnya, ketika industri menaikkan tiket pesawat sebanyak 20 persen, maka permintaan konsumen akan turun 20 persen.
“Kalau naiknya 100 persen, turunnya bisa 100 persen. Atau yang pergi (naik pesawat) tinggal orang-orang yang harus pergi, baik kondisi darurat atau bisnis. Jadi untuk pariwisata tidak bagus,” tutup Arief Yahya.
(Utami Evi Riyani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.