Pemerintah dan dunia usaha belum membantu
Sri Gamawati dan Herawati tergabung dalam Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome atau Potads bersama 5.000-an orangtua lain dari seluruh Indonesia. Ketua Potads, Olivia Duhita, mengakui, masa depan anak down syndrome dan kemandirian mereka adalah persoalan yang paling mengganjal di benak para orangtua.
Belum banyak penyandang down syndrome yang mulai mandiri seperti Aswin. Potads, seiring dengan peringatan Hari Down Syndrome Sedunia setiap 21 Maret, mendorong orang tua menemukan jalan untuk mandiri.
Sejauh ini, pemerintah, kata Olivia, baru menyampaikan wacana untuk melibatkan anak dengan down syndrome secara inklusif di dunia kerja. Dunia usaha juga belum banyak bergerak.
"Tentunya kita ingin seperti negara lain, termasuk negara tetangga saja sudah mempunya kesempatan menerima anak dengan down syndrome bekerja di perusahaan dan restoran," kata Olivia.
Sayangnya, menurut Olivia, upaya inklusif itu belum ada di Indonesia. Penyandang down syndrom baru mendapat kesempatan punya usaha. Itu pun sepenuhnya dari usaha orang tua.
"Kalau kita melihat di negara kita, kalau nggak kita orang tua sendiri yang berupaya seperti itu, pemerintah atau lembaga lain belum ada yang yang menerima yang seperti ini," tutur Olivia.
Meski demikian, Februari lalu POTADS menerima kunjungan dari Ritz Carlton Hotel, yang berjanji tahun ini akan memberi pelatihan layanan hotel untuk penyandang down syndrome remaja.
Olivia berharap setelah itu, penyandang down syndrome mendapat kesempatan magang di hotel dan restoran.

Janji pemerintah dan dunia usaha
Meski saat ini belum dibuka, perusahaan telekomunikasi Telkomsel menyebut ke depan ada peluang membuka lowongan pekerjaan sederhana untuk penyandang down syndrome.
General Manager Komunitas Telkomsel, Safriyana Siregar, mengatakan penyandang down syndrome "bisa bekerja untuk greeting pelanggan, mengucapkan selamat pagi, smile and greet: 'selamat pagi bapak, silakan…'"
Bahkan, menurut Safriyana, ada kesempatan penyandang down syndrome menjadi endorser dan duta Telkomsel. Dia menambahkan, para penyandang down syndrome punya kekuatan untuk menyampaikan pesan kesetaraan dengan peran tersebut.
Direktur Jendral Rehabilitasi Sosial dan Penyandang Disabilita,s Edi Suharto, menyebut Kementerian Sosial sejauh ini baru membantu peningkatan vokasional dan wirausaha melalui balai-balai rehabiltasi yang dikelola Kementerian Sosial.
Di antaranya dengan pelatihan melukis dan membatik. "Vokasional bisa yang sederhana, penerima tamu, melukis kita ada di Bogor: Asep namanya, bisa melukis Pak Jokowi, Pak Menteri, itu luar biasa. Termasuk kita di Temanggagung itu membantu, terkenal dengan nama batik Ciprat," jelasnya.
Batik ciprat karya anak-anak down syndrome dari Temanggung, kata Edi, telah dijual ke mancanegara. Ditambahkan Edi, Kemensos akan berupaya mendorong lintas sektor untuk bersama-sama menciptakan akses pekerjaan bagi penyandang down syndrome.
Sebab , sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas, pemerintah, pemerintah daerah, BUMN, dan BUMD wajib mempekerjakan penyandang disabilitas 2% dari total pegawai. Adapun perusahaan swasta wajib mempekerjakan penyandang disabilitas 1% dari total pegawai.
Edi mengakui penyandang down syndrome memang masih sedikit yang masuk untuk menerima kesempatan ini. Dari yang sedikit ini, menurut Edi, salah satu yang sudah menerima penyandang down syndrome adalah industri garmen.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.