Lima bulan terakhir Aswin Nugroho resmi jadi penjual kue kering di Surabaya, Jawa Timur. Predikat itu terdengar biasa saja bagi orang awam, tapi capaian istimewa bagi Aswin, seorang penyandang down syndrome.
Kue kering Aswin dijual sekitar Rp20 ribu per stoples kecil. Aswin bisa menjual seratusan stoples dalam sebulan. Kata pria berusia 27 tahun itu, kue stroberi yang paling laku.
Menurut ibunda Aswin, Herawati Kartawinata, kue kering adalah jalan bagi Aswin berlatih mandiri—sebuah kondisi yang amat sulit dicapai untuk anak dengan down syndrome. Sejak menyadari anaknya down syndrome, perempuan 67 tahun itu merasa resah dan bertanya-tanya dalam hati.
"Masa depan anak saya mau saya titipkan ke siapa? Dalam keadaan bagaimana? Jadi dari dulu selalu berusaha memandirikan Aswin. Paling tidak, tidak merepotkan orang.
"Saya dengan Aswin itu selisih 40 tahun, menurut logika umum saya akan akan berangkat duluan, ini yang membuat saya selalu resah," tutur Hera kepada Arin Swandari yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Meski penyandang down syndrome dikhawatirkan berusia pendek, namun kini harapan hidup mereka lebih tinggi. Beberapa orang dengan down syndrome dilaporkan hidup hingga dewasa bahkan usia tua.
Laman Medindia menyebutkan penyandang down syndrome bisa mencapai usia 60 tahun. Down syndrome merupakan kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental akibat abnormalitas perkembangan kromosom. Jika pada kondisi normal orang memiliki dua kromosom ke-21, penyandang sindrom down memiliki tiga.
Badan Kesehatan Dunia, WHO, memperkirakan ada satu kejadian sindrom down per 1.000 kelahiran. Menurut WHO ada 8 juta penderita down syndrome di seluruh dunia saat ini. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan pada 2010 ,prevalensi down syndrome Indonesia sebesar 0,12%.

Menjadi pianis dan pelukis
Aswin Nugroho adalah putera ketiga dari tiga bersaudara pasangan Herawati dan Adi Supeno. Hera dan Adi membekali Aswin dengan pendidikan SLB, les musik, dan olahraga sehingga Aswin dapat menjadi seorang pianis sekaligus perenang.
Namun, Hera tersentak saat kerabatnya mengingatkan, musik dan olahraga sulit untuk menopang hidup Aswin. Hera teringat, Aswin selalu antusias tatkala berada di toko kue dan melihat penjualnya menggunakan topi koki. Ia lantas menawarkan Aswin belajar membuat kue kering.
Sebulan pertama belajar, Aswin baru bisa membuat bulatan dengan sempurna. Perlu beberapa bulan bagi Aswin untuk membuat kue kering. Kata Hera, Aswin tak sabar ingin menjual kuenya.

"Dia pikirannya memang satu, ini bisa dijual. Itu dari dulu dia ingin," lanjut Hera.
Ia mengaku terkejut ketika guru les Aswin bercerita padanya, Aswin sudah memperkenalkan diri sebagai penjual kue meski tak mampu menyampaikan harga kuenya.
"Tapi dia bilang kalau saya sekarang jual kue, dia sampai di titik itu," kata Hera lagi.