FESTIVAL Cap Go Meh 2019 di Kota Singkawang, Kalimantan Barat bakal dimeriahkan dengan pawai 922 tatung. Para tatung atau orang yang telah dirasuki roh dewa atau leluhur ini akan melewati jalan-jalan protokol sambil membaca mantra dan mudra.
Satu di antara tatung ini, ada yang menyimpan kisah menarik. Dialah Cong Bui Khiong. Pria 39 tahun tersebut ternyata sudah menjadi tatung sejak usianya masih 15 tahun. Atau, sudah 24 tahun pria bernama Indonesia, Hermansyah itu melakoni sebagai tatung.
“Saya sudah menjadi tatung sejak usia 15 tahun. Saat itu masih sekolah," kisah Hermansyah, kepada wartawan baru-baru.
Baca Juga: Video Bocah Laki-laki Solat Kejedot Dinding, Bukannya Prihatin Netizen Malah Ngakak!
Kala itu, ceritanya, secara tiba-tiba dan tanpa disadari dia kerasukan dewa atau roh leluhur. "Nah, sejak itulah saya menjadi seorang tatung,” ujarnya.

Warga Jalan Kalimantan, Gang Dua, Kelurahan Condong, Kecamatan Singkawang Tengah ini mengatakan, memang dari generasi sebelumnya sudah ada yang menjadi tatung. Sedangkan dia merupakan generasi keempat setelah pamannya.
"Menjadi tatung merupakan pilihan dari leluhur. Ini sudah dari generasi ke generasi. Kita tidak bisa meminta untuk menjadi tatung, namun leluhur atau dewa yang memilih kita,” katanya.
Ketika dipilih dewa atau roh leluhur untuk menjadi seorang tatung, kata Hermansyah, maka tanggung jawab sudah ada di pundak tatung itu sendiri. Siap tak siap, harus siap.
Baca Juga: Kunjungi Indonesia, Miss World 2018 Vanessa Ponce Jatuh Cinta dengan Gado-Gado
"Harus siap dengan tanggung jawab menjadi seorang tatung," tegasnya.
Memang, ada suka duka menjadi seorang tatung. Sukanya, ketika menjadi tatung, Hermansyah banyak diminta bantuan oleh orang lain untuk diobati. Lalu, berbagai macam pula pantangan yang tak boleh dilanggar oleh orang yang menjadi tatung. Seperti tidak memakan daging atau lainnya. Sesuai pantangan yang diberikan dari dewa atau leluhur.

“Pantangan itu tergantung masing-masing dewa atau roh leluhur, jadi bisa beda-beda. Kalau saya biasanya yang memasuki tubuh, yaitu Dewa Cong Tien Si,” terangnya.
Suka lainnya, lanjut Hermansyah, metika menjadi seorang tatung, dia sering keluar kota ketika ada warga yang menghubungi dan minta dia untuk melakukan pengobatan. Tapi, dia harus meninggalkan anak dan istrinya di rumah.
Hermansyah mengaku, selama menjadi seorang tatung, dirinya belum pernah terluka ketika melakukan aksi yang berhubungan dengan benda tajam. Agar selalu dilindungi, makanya seorang tatung harus menjalani perintah pantangan dari dewa yang masuk ke tubuhnya.
Untuk diketahui, pada tahun ini Hermansyah akan menurunkan patung Pantak setinggi tiga meter dengan kostum hitam yang bertuliskan kurata di bagian kepala.
“Saat ini pengerjaannya sudah 70 persen dan akan diturunkan pada malam pawai lampion serta pawai tatung nantinya. Tim kita ada 20 orang lebih,” tutupnya.
(Utami Evi Riyani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.