Sebenarnya hal ini memiliki alasan, mengapa media sosial terasa begitu menyenangkan. “Mendapatkan jumlah likes sama seperti mendapat seri penghargaan, Anda mendapatkan dopamin setiap kali mendapat tanggapan suka atau komentar positif di media sosial,” jelas psikolog Emma Kenny.
Mungkin sudah menjadi sifat manusia ingin disukai dan dipuji. Menurut sebuah penelitian efek atau dampak dari jumlah likes media sosial terhadap otak sama seperti memakan coklat dan mendapatkan uang.

Namun, ketika mendapatkan jumlah like yang tidak sesuai harapan, mereka cenderung langsung menghapusnya. Secara objektif, ini memang irasional. Emma Kenny mencatat bahwa perilaku seperti ini muncul ketika seseorang mulai percaya bahwa pendapat orang lain adalah fakta.
"Ini mengkhawatirkan, karena inti dari bahagia adalah tentang menjadi diri Anda sendiri. Jika Anda percaya bahwa pendapat orang lain adalah fakta, harga diri Anda akan rendah, kepercayaan diri makin berkurang atau kesehatan mental yang negatif,” jelasnya.