Joko menambahkan menjadi pawang hujan sebenarnya bukanlah cita-citanya. Sebelum menjadi pawang hujan, pria berusia 57 tahun itu sempat bekerja sebagai karyawan BUMN di PT PLN. Namun, ia memutuskan mengundurkan diri dari PLN setelah akan dimutasi ke Bali atau Kalimantan. Setelah itu, ia pun bekerja di Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang.

“2006 lalu saya memutuskan berhenti dari PMI. Sudah enggak kuat. Setiap hari antar jemput jenazah. Ibaratnya, setiap kali pergi diiringi tangisan orang. Itu membuat saya sedih,” cerita Joko.
Pasca-berhenti dari PMI, Joko mulai menekuni profesi sebagai pawang hujan. Awal kariernya bermula saat diminta salah satu kolega menjadi pawang hujan pada acara seni di Semarang.
“Teman saya itu tahu kalau sejak dulu saya memang punya kemampuan pawang hujan dan kebetulan berhasil. Sejak saat itu banyak yang pakai jasa saya," tutur Joko.