Jumlah kematian sebenarnya mungkin terlalu sedikit dilaporkan, kata para peneliti. Hal ini dikarenakan faktor risiko dan metode pelaporan bervariasi dan seringkali sulit untuk ditentukan.
Sementara itu, terjadinya kematian yang terkait dengan cedera diri bisa lebih tinggi dari diabetes dikarenakan upaya pencegahan yang ditargetkan tertinggal di belakang. Akibatnya, peneliti mendesak penyedia layanan publik dan kesehatan untuk mulai berpikir tentang berbagai jenis cedera diri sebagai upaya pencegahan ketika datang ke unit kesehatan masyarakat.
"Kami sangat mengakar dalam memisahkan bunuh diri dari overdosis narkoba atau kematian akibat keracunan alkohol yang mana orang-orang tidak dapat membungkus kepala mereka di sekitar gagasan bahwa mereka terkait dengan angka kematian," kata Hilary S. Connery, MD, Ph.D., seorang penulis dari studi dan direktur klinis Divisi Penyalahgunaan Alkohol dan Obat-obatan di McLean Hospital.
Hilary menambahkan, dengan fakta ini, sudah saatnya untuk mengakhiri pendekatan yang bodoh untuk pencegahan. Para penulis mengatakan mereka berharap bahwa masalah melukai diri sendiri ini harus disamakan dengan penyakit kronis lainnya - penyakit jantung, kanker, penyakit paru-paru.
Jadi, penyediaan sumber daya yang memadai akan diarahkan pada penelitian dan upaya pencegahan yang ditargetkan untuk mengurangi kematian yang berkaitan dengan cedera diri. Hal ini juga harus menjadi warning untuk negara lain dalam menangani masalah bunuh diri.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.