Awalnya, para penduduk pun bisa menyanggupi permintaan makanan dari Kebo Iwa, namun lama kelamaan para penduduk pun merasa kesulitan terutama saat musim kemarau datang karena lumping padi pelan-pelan menjadi kosong, bahan makanan pokok pun mulai sulit didapat hingga akhirnya sang raksasa pun mengamuk karena tidak mendapatkan keinginannya.
Dilanda rasa takut oleh amukan Kebo Iwa, disebutkan lebih lanjut para penduduk pun berpikir keras cara untuk melawan sang raksasa yang begitu kuat tersebut. Sampai akhirnya masyarakat sepakat untuk mengelabui Kebo Iwa dengan berpura-pura membutuhkan pertolongan Kebo Iwa untuk membangun kembali rumah-rumah serta pura tempat peribadatan yang telah dirusak Kebo Iwa, lalu sebagai bayarannya penduduk yang diwakili oleh kepala kampung berjanji akan menyediakan makanan yang banyak kepada Kebo Iwa.
Singkat cerita, sang raksasa pun tergiur dengan tawaran penduduk desa dan bersedia untuk membangun kembali rumah-rumah dan pura yang telah dirusaknya dalam waktu singkat. Sementara itu, di saat yang sama para penduduk desa disebutkan mengumpulkan kapur dalam jumlah yang banyak.

Kemudian ketika Kebo Iwa sedang sibuk menggali sumur, dengan menggunakan kedua tangannya langsung untuk menggali tanah. Perlahan-lahan, sumur yang digali pun semakin dalam, sesekali sang raksasa disebutkan beristirahat di dalam sumur ketika siang hari.