INDONESIA menyimpan banyak misteri di dalamnya. Tak sedikit dari misteri itu yang merupakan fakta yang patut ditakuti. Salah satunya misteri Gunung Pegat di Jawa Tengah.
Menurut beberapa sumber, gunung ini menyimpan banyak hal mistis yang mungkin tidak masuk akal logika. Mitos yang paling ditakuti dan masih banyak dipercaya sampai sekarang adalah berani ke gunung ini berarti Anda siap menerima kesengsaraan hidup!
Mitos ini berlaku khususnya untuk mereka yang merupakan pasangan pengantin baru. Jadi, bagi Anda yang tidak ingin hubungan rumah tangganya terputus atau mendapat mala petaka, sangat tidak disarankan untuk mampir ke gunung yang berada di desa Ngadiroyo, Nguntoronadi, Wonogiri ini.
Desas-desus berhembus, kenapa akhirnya gunung ini sangat ditakuti pengantin baru. Adalah karena ulah usil penunggu Gunung Pegat yang bernama Mbah Glondor. Konon, penunggu gunung ini paling tidak suka jika melihat ada pasangan baru berbahagia.
Menurut beberapa sumber yang diterima Okezone, Mbah Glondor ini mati dalam kondisi sakit hati. Dia akhirnya mengucap ikrar bahwa dirinya akan menghancurkan setiap kebahagiaan pada mereka yang hadir di Gunung Pegat.
Kisah di balik Mbah Glondor ini memang cukup menyedihkan. Bagaimana tidak, Mbah Glondor harus merelakan tambatan hatinya meninggalkan dia. Karena sakit hati yang teramat, dia berjanji untuk menduda seumur hidup. Nah, sakit hati itu dia bawa sampai alam kubur dan hingga kini kemurkaan Mbah Glondor masih dipercayai sebagian masyarakat Indonesia.
Sementara itu, bagi Anda yang penasaran, dari mana asal usul nama Gunung Pegat tersebut, Okezone berhasil menemukan sejarah singkatnya.
Dalam beberapa referensi dijelaskan bahwa nama tersebut merujuk pada makna kata "pegat" itu sendiri yaitu putus. Maka dari itu, mitos perceraian di gunung ini pun semakin menyeruak seraya arti kata gunung tersebut.
Lebih lanjut, awalnya gunung ini adalah pegunungan kecil yang terletak di desa Ngadoroyo, Kecamatan Nguntoronadi. Penduduk setempat menamakannya pegunungan Ngadiroyo. Usut punya usut, pegunungan itu kemudian dibelah menjadi dua karena alasan pembangunan jalan.
Alhasil, pegunungan Ngadiroyo pun dibelah untuk menghubungkan Wonogoro dengan Pacitan. Imbas pembangunannya adalah terciptanya waduk raksasa Gajah Mungkur di mana waduk ini sebagai lokasi penyimpanan air untuk keperluan masyarakat sekitar. Hal lainnya adalah jalanan itu kemudian menjadi jalan utama menuju Pacita dari arah Wonogiri.
Mitos perceraian tersebut tetap dipercaya sampai sekarang pada sebagain orang. Jika Anda berani membuktikannya, tidak ada salahnya. Itu keputusan Anda, risiko Anda yang tanggung!
Di sisi lain, ada mitos Gunung Pegat juga yang melegenda di daerah Lamongan. Di sini, kasusnya masih sama, yaitu perceraian dan perpisahan yang menakutkan. Tapi, ada tradisi lain yang masih banyak juga dipraktikan masyarakat di sana.
Adalah melepaskan ayam. Ada kisah mistis di balik mitos tersebut. Jadi, dahulu kala ada putra Kanjeng Jombang yang sedang bersemedi di Gunung Pegat hingga bertahun-tahun. Semedi itu membuahkan hasil Kanjeng Jombang berubah menjadi ular yang sangat besar.
Jelmaan ular tersebut kemudian diketahui masyarakat dan ular berhasil didapat. Tak lama setelah itu, si ular dikuliti hingga akhirnya dia mati di tangan masyarakat. Sang ular murka dan mengutuk gunung tersebut.
Karena itu, setiap kali ada calon pengantin yang mau menikah, dipastikan mereka harus melempar ayam di sekitar Gunung Pegat sebagai tanda penyelamatan. Ini dimaksudkan agar mereka terbebas dari kutukan perceraian. Perlu diketahui ayam yang dilepaskan adalah ayam kampung hitam!
Nah, Anda juga mesti tahu bahwa ayam ampung hitam bagi masyarakat Jawa itu memiliki makna tolak balak apese awak, yang bertujuan untuk menghindari ketidakbahagiaan rumah tangga, seperti rejeki seret, tidak memiliki keturunan, salah satu keluarga ada yang meninggal, atau masalah yang lainnya.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.