Menurut Ustaz Fauzan, nantinya Allah akan menilai tiap isi hati hambanya. Namun, ternyata kejadian serupa tapi tidak sama pernah dialami oleh Ali RA saat kakinya terkena busur panah. Oleh karena tidak kuat menahan rasa sakit dan panah sulit dicabut, Ali minta para sahabat untuk mencabutnya saat sedang salat. Benar saja, saat dicabut Ali tidak mengerang sakit, dan ini adalah contoh kekhusyukkan salat dari Sayyidina Ali RA.
Di sisi lain, belajar dari peristiwa yang dialami oleh imam di Musala As Syuhada tersebut, jika semisal imam, jamaah, atau ada orang yang meninggal dalam salatnya karena guncangan gempa, maka menurut Ustaz Fauzan orang itu akan meninggal syahid.
“Meninggal dalam kondisi kena musibah tergolong syahid. Apalagi sedang sholat. Syahid ada 2, pertama, syahidun fiddunya yang berdasarkan fakta kasat mata, misal meninggal karena melahirkan, tenggelam, dan mati berjuang pertahankan agama, jiwa, harta, dll. Kedua, syahidun fil akhirat. Tapi, kematian orang tergolong dalam syahidun fiddunya atau syahidun fil akhirat, hanya Allah yang tahu. Walaupun di dunia mati perang belum tentu syahid menurut allah. Tergantung hati dan ke ikhlasan jiwa,” sambung Ustaz Fauzan.
Sementara itu, sebagai manusia menurut Ustaz Fauzan kita harus berbaik sangka, ada orang yang terkena musibah dalam kondisi salat atau ibadah lain bisa mati syahid fiddunya fil akhirat. Ustaz Fauzan menjelaskan, untuk tanda-tanda mati syahid di dunia cara urus jenazah harus dilakukan dengan cara berbeda, misal meninggal dalam peperangan tidak perlu dimandikan, karena darahnya jadi saksi di hadapan Allah.
“Walaupun tidak semua orang yang mati di peperangan syahidun fiddunya fil akhirat, karena ada beberapa kejadian yang dinyatakan mati syahid tapi kata rasul tidak mati syahid karena dia berperang hanya untuk gaya saja,” tandasnya.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.