PADANG - Kecintaannya terhadap hewan yang dilindungi membuat Pati Hariyose (35) warga Pasir Jambak, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat merelakan tujuh unit vespa miliknya dijual.
Dananya dipakai untuk konservasi tukik yang membutuhkan dana besar. “Ada tujuh unit vespa yang saya jual, itu harta yang berharga bagi saya terpaksa saya jual, total uangnya ada sebanyak Rp27 juta itu yang dipakai untuk memelihara tukik. Gimana lagi saya mencintai hewan ini, bagi saya itu sangat berharga,” ujar Pati Hariyose.
Saat Okezone menyambangi tempatnya Yose, panggilan akrab Pati Hariyose, sedang makan nasi bungkus dengan Fahrul Rozi (20), tandemnya mencari dan memelihara telur penyu sampai menetas di pondok standnya.
Dia duduk santai di sebuah pondok kecil beratap rumbia yang dijadikan stand untuk menjual baju kaos kampanye penyelamatan penyu. Pondok ukuran 2 x 1 meter itu terbuka, tidak memiliki sekat, bangunannya dari kayu dengan posisi depan gedung penangkaran penyu.
Yose memakai baju kemeja warna hitam dengan motif garis putih yang samar-samar dibalut dengan celana jeans warna hitam juga, bercerita soal perjuangannya menyelamatkan penyu.

(Baca Juga: Suporter-Suporter Cantik yang Berhasil Mencuri Perhatian di Piala Dunia 2018)
“Saya sudah sejak tahun 2013 melakukan penangkaran penyu, awalnya saya melakukan penangkaran di tepi pantai tempat biasa penyu bertelur, namun pada tahun 2015 penangkaran penyu tersebut disapu gelombang tinggi hingga 500 butir telurnya hilang terbawa gelombang laut,” tuturnya pada Okezone.
Berbekal pengalaman pahit itu, pada tahun 2015 Yose mencoba untuk melakukan penangkaran melaluhi box styfoam, namun hasilnya tidak maksimal, banyak telur penyu yang tidak menetas.
“Sudah kita coba pakai box tapi hasilnya tidak maksimal banyak telur penyu itu tidak menetas mungkin tempatnya yang tidak mendukung atau suhu udara yang tidak seperti di pasir pantai,” katanya.

Kemudian pada 2016 Yose mendapat kucuran dana dari pemerintah Kota Padang melaluhi Dinas Pariwisata, namu itu hanya bertahan selama setahun, pada tahun 2017 Yose tidak lagi mendapatkan kucuran dana untuk membeli pakan anak penyu. “Satu bulan uang operasional untuk membeli makanan tukik ini bisa menghabiskan dana Rp3 juta sampai Rp4 juta,” tuturnya.
Pada tahun 2017 itu Yose kehabisan dana untuk memberikan makanan tukik yang ditangkarnya termasuk biaya operasionalnya, solusi yang diambil adalah menjual koleksi vespanya yang masih tersisa.
Bahkan keluarganya sendiri sudah meminta untuk berhenti memelihara tukik karena tidak menghasilkan uang, apalagi menjual harta benda miliknya sampai sekarang belum ada hasilnya. “Saya tetap bertahan dengan kegiatan ini,” ujarnya.
Namun pada Desember 2017 Yose mendapat angin segar, sebuah perusahan mobil membangun fasilitas untuk mengembangkan hewan tersebut. “Kita dibantu fasilitas ada gedung yang dilengkapi kolam tukik, kolam pasir, pendopo, ruang kantor. Mereka yang membangun semuanya kita hanya terima kunci saja, kalau diperkirakan dana tersebut dari CSR dengan nilai Rp400 juta,” tuturnya.
(Baca Juga: 5 Pemain Sepakbola yang Punya Tampang dan Body Keren, Jangan Minder Ya Guys)

Meski sudah mendapat bantuan falisilitas namun menurutnya itu belum cukup yang menjadi kendala biaya operasional, cara lain yang dilakukan adalah meminta donasi kepada pengungjung.
“Jadi kalau mereka datang ke tempat sini kita siapkan box untuk donasi mereka, kita tidak memaksakan mereka memberikan donasi, kalau tidak memberikan donasi kita juga tidak melarang untuk masuk,” ujarnya.
Selain itu setiap pelepasan tukik dia diberikan uang sebanyak Rp200 ribu, itulah yang dipakai untuk beli pakan tukik. “Saat ini ada sekira 50 ekor tukik jenis sisik yang berumur satu hari dan akan dilepakan sore ini, itupun kalau cuaca bagus,” katanya.
Sementara di kolam pasir sedang dieram sebanyak 1.200 butir telur penyu sisik, lekang dan penyu hijau sudah sepuluh hari usianya, untuk menjadi tukik akan memakan waktu selama 50 hari. “Untuk penyu sisik itu diambil hasil telur penyu disepanjang pantai Pasir Jambak, sementara telur penyu lekang dan penyu hijau diambil dari Pulau Pandan di depan Pasir Jambak,” terangnya.
Untuk mendapatkan telur penyu itu Yose dan Fahrul Rozi harus menyisir pantai Pasir Jambak sepanjang 5 kilometer di mulai pukul 20.00 WIB sampai 22.00 WIB kemudian dilanjutkan pukul 00.00 sampai 02.00 WIB karena jam seperti itu sering penyu bertelur. Jika terlambat warga lain akan mengambil telur penyu tersebut untuk dijualnya.

“Kadang terpaksa kita membeli kepada warga dengan kompensasi senilai Rp2.000 per butir. Awalnya kita ada komonitas pencinta penyu namun karena tidak menghasilkan apa-apa jadi kami tinggal berdua saja,” terangnya.
Yose menerangkan sejak dia geluti dunia tersebut dari tahun 2013 sampai sekarang ini telah melepaskan 19 ribu ekor tukik ke laut di Pasir Jambak. Dia berharap kepada pemerintah menyeriusi soal perdagangan penyu, karena masih ada masyarakat yang berburu telur penyu.
“Setahu saya baru sekali ada sidang penjualan telur penyu, namun selanjutnya tidak ada, mereka juga meraja lelah menjual telur penyu sempat di tutup tapi sekarang marak lagi. Jadi pemerintah tidak serius soal menjaga penyu itu,” ujarnya.
(Muhammad Saifullah )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.