Nama legen sendiri, menurut salah seorang penjual legen, Kasmito Ali Rahman (54), berasal dari kata dasar legi dalam bahasa Jawa yang berarti manis. Legen kebanyakan dibuat dari bunga pohon lontar atau siwalan jenis perempuan yang bunganya berbentuk sulur.

“Sulur bunga ini dipotong sedikit demi sedikit untuk disadap getahnya dan ditampung pada potongan bambu satu ruas,” ujarnya Rahman kepada okezone.
Penyadapan ini biasanya memakan waktu semalam. Bila pada sore hari tabung bambu diletakkan sebagai penampung, maka pada pagi harinya satu bambu itu sudah terisi penuh. “Kalau sekarang memang beberapa sudah menggunakan wadah dari plastik menggantikan bambu. Tapi memang aromanya masih kalah jika disadap menggunakan bambu,” ujar pria yang berjualan di kawasan Pantai Boom Tuban ini.
Sesuai namanya legen, mempunyai citra rasa manis, seperti terdapat kandungan soda, namun dengan tekstur yang lembut dan kental.