Kemudian, masjid besar yang dibangun Baing Yusuf ini pada masanya dijadikan tempat syiar Islam di wilayah Purwakarta. Apalagi, saat itu pemeluk agama Islam di wilayah ini masih sangat jarang. Makanya, Baing Yusuf mendirikan tempat untuk kajian agama Islam.
"Sejak kecil, beliau memang sudah sangat cerdas. Pada usia belia, Baing Yusuf sudah fasih Bahasa Arab. Lalu, saat usia 12 tahun, beliau hafal Al Quran. Bahkan, beliau pernah belajar Islam di Makkah, Arab Saudi," cerita Sanusi.
Namun, meskipun fasih berbahasa arab, berdasarkan sejarah saat itu Baing Yusuf mensyiarkan Islam dengan bahasa sunda. Apalagi, saat itu masyarakat Purwakarta belum mengenal dan memahami bahasa latin, bahasa arab, ataupun bahasa Jawa kuno.
Ada bukti lain jika Baing Yusuf menyebarkan Islam dengan bahasa sunda. Yaitu dari kitab fikih dan tasawuf yang disusunnya. Meskipun tulisannya menggunakan bahasa arab, tapi kitab tersebut diterjemahkan dalam bahasa sunda.
Pada 1830-an, lanjut Sanusi, pusat pemerintahan pindah dari Wanayasa ke Purwakarta. Perpindahan pusat pemerintahan ini, semakin berkembangnya penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.